Thursday, March 29, 2012

Duka Keluarga ku di Kelas

Langit terlihat cerah Pagi tadi. Seperti biasa aku berjalan kaki menuju kampus. Sesampai di kelas teman-temanku seperti sedang mendiskusikan sesuatu. Kuhampiri mereka dan kutanyakan apa yang mereka bicarakan. Sungguh mengejutkan sekali, ternyata berita duka dari salah seorang temanku di kelas. Ayahanda dari temanku tersebut meninggal dunia dikarenakan kecelakaan yang sangat fatal. Aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan temanku tersebut. Pantas saja sudah beberapa hari ini dia tidak terlihat berkicau di kampus, rupanya duka sedang meliputinya.
Temanku merupakan anak dari seorang Polisi, dia anak kedua sekaligus bungsu dikeluarganya. Kakaknya bertugas di luar daerah sebagai seorang polisi mengikuti jejak sang ayah dan sang kakak belum berkeluarga. Dalam benakku terbersit bahwa temanku memikul beban yang amat berat dengan kepergian ayahanda yang berusia tergolong masih muda.

Kebetulan setelah mata kuliah pertama usai kami bebas, karena untuk mata kuliah kedua dosen berhalangan hadir. Kamipun berdiskusi bersama di kelas, dan kami sepakat untuk pergi ke rumah duka siang ini. Korti kami menginstruksikan untuk memberikan sedikit bantuan sukarela. Setelah semua terkumpul, kamipun berangkat menuju rumah duka menggunakan sepeda motor slaing berboncengan.

Jarak rumah duka cukup jauh dari kampus kami, sekitar 1 jam. Tepatnya rumah duka berlokasi di Petak, Gianyar. Sepanjang perjalanan menuju rumah duka terhampar sawah yang menghijau membuat pemandangan semakin indah. Semakin dekat, udara semakin dingin dan menusuk tulangku. Kami terpecah menjadi dua group, ada yang sudah mendahului dan ada yang masih dibelakang. Aku termasuk group yang di belakang. Setelah kurang lebih 1 jam kami diperjalanan akhirnya kamipun tiba di rumah duka.

Sesampai di rumah duka, ternyata si empunya masih dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Kamipun menunggu di sebuah warung. Sambil menunggu, kami membeli camilan sebagai pengganjal perut kami yang sudah cukup lapar. Kami bercakap-cakap saling bercanda ria. Tidak sering kesempatan bersama seperti ini terjadi.


Tak lama kemudian teman kami pun tiba. Kami segera masuk ke rumah duka. Kamipun dipersilakan duduk oleh pihak keluarga. Kami hanya bisa terdiam, tak sepatah katapun terucap dari bibir. Tak terasa air mataku menetes. Membayangkan begitu berat yang dirasakan pihak keluarga yang kehilangan. Setelah cukup lama kami duduk, kemudian ada seseorang yang menghampiri kami semua. Dilihat dari perawakannya spertinya ia merupakan kakek dari teman kami. Ternyata benar, beliau memang kakek dari temanku. Beliau mengucapkn beberapa patah kata, mengucapkan terimakasih banyak pada kami semua dan memohon doa untuk yang telah tiada. Ketika berbicara beliau tak kuasa menahan tangisnya, sehingga kamipun menjadi larut dalam keadaan dan tak sanggup lagi membendung air mata kami. Hanya sebentar beliau menemani kami karena masih banyak persiapn upacara kematian yang harus dipersiapkan.

Kami merasa sudah cukup lama di rumah duka, dan memutuskan untuk pamit pulang. Seraya Korti memberikan sedikit bantuan yang telah kami kumpulkan. Kamipun bersalaman satu persatu memberikan semangat agar ia dan keluarga yang ditinggalkan tabah menghadapi apa yang Tuhan ambil dari mereka saat ini, dan semoga beliau yang telah tiada diterima di sisi Tuhahn. Selalu ada hikmah dari setiap kejadian yang terjadi meskipun amat berat.

"Yang hidup pasti akan mati, begitulah seterusnya untuk semua makhluk"


*Korti (Koordinator Tingkat)

Dialog Pagi

Lina: "mba dengerin lagu apa sih itu"
Aku: "emang kamu nggak bisa denger aku lagi dengerin lagu apa"
Lina: "keroncong ya"
Aku: "iya keroncong kalau didengerin dari hongkong!"
Lina: "trus apa donk, tumben denger lagu ini"
Aku: "iya kan cuma kamu yang tumben bauka aku to"
Lina: "kamu juga lagu nya aneh-aneh gimana aku mau sering dengernya"
Aku: "heh!!! ini tu lagunya Broery Marantika tau!!!, masak kamu gx tau sih!'
Lina: "Oh, broery marantika, itu kan yang kemarin mati di Yogya gara-gara kejepit andong ya, kemarin masuk TV kn?"
Aku: ..........???????????

Wednesday, March 28, 2012

Memories

Memories are..
Old photographs left alone in an
Ancient album conveying,
Love, Family, Friendship in
Past happy occasions.
Previous flashbacks recalling,
Dreadful, frightening moments.
A loved ones treasures that brings.
Such pleasure to the one who inherits them.

Memories are...
An old burnt down house,
That reveals some startling secrets,
Which now has become a new home.
An child hood friendship,
Which is broken apart.

Unforgotten letters which
Remind others that they are loved and their,
Presence is still here.
An familly pet first getting
Its licence and now it is buried graved.


Memories are....
People who had captured happy and sad,
Moments of their life.
The key important events that
Happened like the first word ever spoken,
As a baby or the first foot steps being taken.

Memories are.....
Never washed away, they are
The keys that opens every closed closet.

Jokes !


In a certain suburban neighborhood, there were two brothers, 8 and 100 years old, who were exceedingly mischievous. Whenever something went wrong in the neighborhood, it turned out they had a hand in it. Their parents were at their wits' end trying to control them. Hearing about a priest nearby who worked with delinquent boys, the mother suggested to the father that they ask the Priest to talk with the boys. The father agreed. The mother went to the Priest and made her request. He agreed, but said he wanted to see the younger boy first and alone.
So the mother sent him to the Priest. The Priest sat the boy down on the other sideof his huge, impressive desk. For about five minutes they just sat and stared at each other. Finally, the Priest pointed his forefinger at the boy and asked "Where is God?" The boy looked under the desk, in the corners of the room, all around, but said nothing. Again, louder, the Priest pointed at the boy and asked, "Where is God?" again the boy looked all around but said nothing. A third time, in a louder, firmer voice, the Priest leaned far across the desk and put his forefinger almost to the boy's nose, and asked "WHERE IS GOD!" The boy panicked and ran all the way home. Finding his older brother, he dragged him upstairs to their room and into the closet, where they usually plotted their mischief. He finally said, "We are in B-I-I-I-I-G trouble now!" The older boy asked, "What do you mean, B-I-I-I-I-G trouble?" His brother replied, "God is missing and they think we did it".

QUOTE



* Our nature is the mind. And the maind is our nature.

* To enter by reason means to realize the essence through instruction and to believe that all living things share the same true nature, which isn't apparent because it's shrouded by sensation and delusion.

Croisan


Dari kejauhan kusaksikan percakapan mereka yang semakin memanas. Entah apa pemicunya sehingga menjadi seperti itu. Dua Hal yang berbeda karakter tapi saling bekerjasama meski terkadang terjadi benturan.

"Kelihatannya Croisan di toko seberang sana terlihat lezat" ujar Mata menahan keinginannya
"air liurku seakan tak bisa kubendung lagi, sungguh sangat ingin q melahapnya" sambung Mulut menimpali ucapan Mata.

Di seberang jalan Croisan sibuk menggoda setiap Mata dan Mulut yang ia temui.
Tiba-tiba ia berceloteh membanggakan dirinya pada satu Mata yang menarik perhatiannya "hei, Kau Mata lihatlah aku sangat indah dan sempurna diolah oleh Sang Empunya. Setiap taburan kismis dalam tubuhku menambah manis tubuhku."
"ah, sungguh aq tak tertarik melihatmu kroisan, lihat bentukmu yang berkerut-kerut membuat tubuhmu tak memiliki lekuk yang indah" cela Mata.
"kau hanya membual saja, sesungguhnya kau sudah tak tahan melihatku, tetapi sepertinya Mulut yang bersamamu terlihat sendu sehingga ia tak bisa memenuhi permintaanmu untuk melahapku hahahaha" ejek Croisan semakin menjadi pada Mata.

Aku hanya bisa tertawa kecil menyaksikan percakapan mereka berdua. Croisan yang ku anggap aneh karena menawarkan dirinya untuk dilahap bukannya mempertahankan dirinya agar tetap utuh. Ah sungguh aneh dunia mereka. Tidak seperti duniaku, setiap individu sibuk mempertahankan diri mereka masing-masing untuk kepentingan pribadi.

"Sesungguhnya hari ini aku sedang tak bergairah melahap apapun Mata. Maafkan aku karena membuat harga dirimu jatuh dihadapan Croisan" sesal Mulut .
"Aku mengerti mulut, tapi tidakkah kau merasakan betapa nikmatnya Croisan ditambah dengan kismis yang memenuhi tubuhnya hahh"
Sesungguhnya Mulut amat menyesal tidak bisa memenuhi permintaan Mata. Apalah daya jika sudah tak ingin melahap apapun, menyesalpun tiada guna lagi.

"hahaha Mulut oh Mulut malang nian nasibmu, tak dapat melahapku. Hari ini aku begitu menarik mungkin tak akan terjadi untuk kedua kalinya saat aku semenarik ini, semoga engkau mengubah keputusanmu itu" ucap Croisan dengan nada mengejek.
Semakin dongkol saja Croisan berdebat dengan Mata dan Mulut. Tidak ada habisnya tetapi tak mendapatkan hasil. Croisan merasa mereka terbuat dari batu sehingga tak berubah pendirian. Croisan tidak ingin gagal kali ini membujuk Mata dan Mulut. Ia kerahkan segala kemampuan untuk merayu keduanya.

Mata kembali meyakinkan Croisan dengan sedikit berat "sudahlah Croisan, kami tak akan tergoda, akan tetapi jika esok kau semenarik ini mungkin kami akan melahapmu. Engkaupun tak akan mengecewakan Sang Empunya."
"ya, benar itu Croisan. Masih ada hari esok, maka tampilah semenarik mungkin esok" ujar Mulut menimpali.

Croisan termenung sejenak, tetapi tiba-tiba berubah menjadi geram pada Mata dan Mulut, "Jika kalian tak melahapku hari ini, jangan harap esok kalian akan menemukanku lagi. Aku tidak akan sudi menampakkan tubuhku ini pada kalian. sekarang sebaiknya kalian enyah dari hadapanku, Pergiiiiiii!!!!!!!!!"

Mata dan Mulut tak bisa berbuat apa-apa lagi. Hanya bisa pasrah menghadapi kemarahan Croisan. Dengan berat mereka pergi meninggalkan Croisan. Mereka amat menyesal telah menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Croisan. Sekarang mereka tak kan pernah menemukan Croisan meski begitu ingin melahapnya.

Di kejauhan Aku termenung memikirkan akhir percakapan mereka yang menyedihkan. Seharusnya Mata dan Mulut tak mengambil keputusan yang fatal. Semua jadi kacau akibat penolakan mereka. Ah, semoga kaumku bisa memetik pelajaran dari perdebatan mereka.

Tuesday, March 27, 2012

Kekasihku


Kekasihku
Aku terpaku di rerumputan yang menguning
Memikirkan setiap belaianmu padaku
Caramu membelai, mencumbuku
semua membuat hati ini rindu
rindu yang tak tertahan lagi
entah bagaimana aku meluapkannya
sedang kau tak bersamaku

kemarin saat kau disisiku
selalu senyum yang tersungging di bibir ku
tak ku katakan rasa ini
hingga yang tersisa hanya kenanganmu
yang tak akan pernah mati ditelan ombak
ataupun di terjang badai

saat ini hanya bisa berdoa untukmu
yang nun jauh disana
semoga dia yang tlah dipilih hatimu
memberikan kesejukan hidupmu

Sanak Haghuk Jamo Isikanno


Di suatu Anek Ughiklah keluargo sederhano sai di kughniai sai sanak ghagah. Watteu aanakno beumogh 6 tahun apakno ghadeu ninggal. Ulah hino sanak ghagah hino diaghuh jamo aghuhan sanak haghuk. Guwai nyukupi kebutuhan keluargano emak sanak haghuk nanem gegulaian jamo kembang-kembang. Mak teghaso sappai anakno meghanai.
Sanak haghuk balak jadei meghanai wawai jamo kicar kiwar. Io selalue ngebatteu emakno nanem kembang-kembang jamo gegulaian. Kembang-kembang jamo gegulaian sai di tanem tiyan tuweh subur jamo berkembang wawai-wawai temmen.
"mak, geh kedou lamen kembang-kembang ijo ikam sai ngejualno adek pasagh, pasti hasilno dapek nyukupei kebutuhan gham tano ji" cawo sanak haghuk hino di suatu dawah. "ya, .ya.. temmen hino, lapahlah nikeu ngejual kembang-kembang ijo, kekkeh emak nikeu sai jujugh jamo wewah pudak jamo apou gaweh sai ngebelei kembangmeu", hino nasihat emakno sanak haghuk. Kembang-kembang sanak haghuk diilingi jamo bebai-bebai jamo mulei-mulei, sappai-sappai putri Raja ngedengei hal hino.
Di pasagh sanak haghuk ilig jamo binatang isikkan. Io agou jamo kambing, jawi jamo manuk. Sappai suatu ghani sewatteu io mulang anjak pasagh, lamen io tumbuk jamo ulun sai agou matiko binatang io belei. Watteu ino io ngenah kucing agou dipatiko io belei, wat lagei ulun sai agou mateiko kenui io belei, sappai wat ulun sai sai agou mateiko tikus io belei. Sewatteu ia agou nyebeghang wai io ngenah punyeu mas sai hampigh matei di pinggigh wai io tulung, diluppukkonno punyeu hino di wai. Akhirno sanak haghuk nayah isikanno.
Putri ghajo sai ghisek ngebelei kembang jamo sanak haghuk munnei kemunneian io iling jamo sanak haghuk. Geh ino munih sanak haghuk iling jamo putri Ghajo. "Mak sikam kileu tulung, pinengko sikam jamo Putri Ghajo", cawo sanak haghuk jamo emakno. Emakno tekanjat jamo beliau cawo, "Nyak mak beghanei anakkeu, gham mak sebanding jamo Putri ghajo, unut gaweh mulei sai sepadan jamo gham"
"Lamen geggeh ino sikam agou mineng sayan", cawo sanak haghuk. Tigeh di istano matei kak maghah ghajo ngedengei nyou sai dicawoko sanak haghuk. Ghajo cawo, "Nikeu dapek nikah jamo anakkeu, asal nikeu dapek ngecet keket istano ijo jamo emas".
Sanak haghuk nyanggupei nyou sai di cawoko ghajo.
Sanak haghuk mulang, di lelapahan io bepikegh geh kedou caghono ngecet keket istano jamo emas, sedangko emasno gaweh sikam mak mekkou. Tifeh di nuwo isikanno sanak haghuk ngelulih, "ulah nyou sanak haghuk kenahan sedih temmen?". Sanak haghuk nyeghitako nyou sai teghjadei. "Lamen geh ino lapah gham adek wai!" cawo keket jamo sanak haghuk jamo seghundono. "setujeu" cawo tiyan jamo-jamo.
Sappai di wai tiyan ngenah punyeu emas balak tekulai matei di pinggigh wai. Punyeu ino iyolah punyeu sai ghadeu di tulung jamo sanak haghuk. Lajeu punyu ino di akuk jamo di belah, mak pandaino wat emas di lem betengno. Nayah temmen emasno hampir 3 kg.
Jamo battuan isikanno debingeino tiyan ngecet keket istano jamo emas. Subhanallah tikus dapek ngeghejako pek-pek sai ghatcak jamo sulit dijangkau. Geggeh inolah tiyan keghejo jejamo guwai nyelesaiko keghejoan hino, sehinggono sappai jam tigo tukuk keghejoan ngecet dinding istano kak ghadeu.
Tukukno, ulun-ulun istano ngekeghik-keghik, "Kebakaghan-kebakaghan!" keghik ulun-ulun hino, ulah dinah istano sai ngining-ngining. Ngedengei keghikan-keghikan ino Raja luwah mak pandaino watteu dinah istano ghadeu dicet jamo emas. Ulah hino diaghuhlah sanak haghuk dijadeiko menatteuno.

Monday, March 26, 2012

Ayah



Saat langit membiru membentuk indahnya panorama
Kau duduk di sudut kota tua
Menopang segala keresahan yang kau rasa
Meski begitu berat beban yang kau pikul
Tetapi senyum tetap menghiasi bibirmu

Tanpa kenal lelah kau memeras keringat
Demi sesuap nasi untuk keluarga yang kau kasihi
Ah, sungguh mulia dirimu Ayah
Entah bagaimana caramu untuk membuat keluargamu bahagia

Kau tak pernah berbagi
Kau simpan segala kisahmu sendiri
Setiap hari kau menanti cahaya yang lebih terang di kota tua
Menanti uluran hati yang bersih
Berharap keringatmu berbau harum

Wednesday, March 21, 2012

paras cantik bunga layu


"Braakkkk"
Serta merta aku terkejut mendengar suara itu. Ternyata ulah seorang teman dikelas ku yang entah siapa namanya. Baru sehari aku berada di sekolah menengah pertama (SMP) negeri 02 di Magelang ini. Aku pindah dari sekolahku yang lama, karena menurut orang tuaku di sekolah yang lama aku kurang mendapatkan fasilitas yang baik. Orang tuaku khawatir prestasiku akan menurun jika melanjutkan bersekolah disana. Akhirnya mereka mengirimku ke kediaman pamanku di Magelang. Memang benar aku mendapatkan sekolah favorit di sini, tetapi dibalik semua itu aku tidak menyadari godaan besar menantiku.
"hallo, salam kenal namaku Fita" sapa seseorang di kelasku. dia berperawakan sedang dengan kulit sedikit gelap dan senyum yang cukup manis. "eh, iya salam kenal juga, aku Nina bru pindah sekolah dan aku dikasi kelas ini sama kepsek" ujarku agak sedikit gugup. Itulah perkenalan pertamaku dengan penghuni kelas ini.
"oya tadi yang gebrak meja tu siapa si, cewek tapi ko kayak macan?" tanyaku pada Fita, "oh itu Pina, memang wataknya kayak gitu juga suka main palak dia, ati-ati aja kamu kan baru di sini" ujar Fita wanti-wanti padaku.
Tak pernah kubayangkan akan bertemu teman sperti itu disini, ditambah lagi aku termasuk gadis kecil yang gampang menangis bisa dibilang manja. Memang perawakan Pina begitu subur dan kekar seperti bodyguard yang sering kulihat di televisi. Tiba-tiba Pina mendekati tempatku duduk, dan sungguh di luar dugaanku dia duduk di bangku tepat di sampingku yang masih kosong. Jantungku berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya, keringat mulai terlihat di wajahku yang gugup.
"heh, siapa nama lu" gertak Pina, "a..aa.kuu.. Nina" jawabku menunduk. "minta duit nya, keliatannya duit lu banyak tu", "aku gx punya duit, cuma pas-pasan aja buat ongkos pulang nanti" sergahku.
Pina tetap memaksa meminta uang dariku, dan akhirnya aku menyerah. Kuserahkan selembar ribuan kepadanya agar ia cepat menghentikan tekanannya terhadapku.
Jam pulang sekolahpun tiba, aku melangkah gontai menuju pemberhentian bus. Tidak ada yg menarik selama perjalan pulang hanya desak-desakan penumpang yang membuatku sedikit lelah. Turun dari bus aku masih harus berjalan sekitar 500 meter lagi untuk mencapai rumah tempat pamanku tinggal.
"gimana Nin disekolah, apa semua baik-baik saja" tanya paman padaku, "ya semua baik-baik saja paman, dan menyenangkan sekali di sekolah yang baru" ucapku sedikit berkelit dari keadaan sebenarnya. Aku tidak ingin membuat pamanku cemas padaku jadi aku mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.
Kulangkahkan kaki menuju kamar. Di rumah ini aku tinggal bersama dua pamanku dan satu bibi ku yang merupakan istri dari pamanku yang lebih tua.
"Nina makan dulu, tadi bibi masak ikan" panggil bibiku dari luar, "iya bi, sebentar lagi. Nina belum lapaR" ujarku singkat.
Aku mengganti pakaianku, kemudian pergi keruang makan dan kusantap sedikit masakan bibi. Benakku masing menerawang jauh di rumah, aku ingin kembali pulang. Menikmati hidup bersama adik-adikku dan orang tuaku, bukan hidup bagaikan orang asing seperti ini. Kulangkahkan kaki menuju kamar mandi. Kurasakan kesegaran air yang cukup berbeda dari yang ada dirumah. Usai membasuh tubuh, aku membuka pelajaran yang diberikan guru tadi di sekolah untuk mengingatnya kembali. Cukup tenang suasana malam itu yang membuatku semakin sedih berada jauh dari orang tuaku.
"Nina bangun, sudah siang, nanti kamu terlambat ke sekolah" gedor bibiku. "arrgghhh, iya iya bi, ini juga sudah bangun" elakku pada bibi.
rasa malas menghampiriku, berat sekali langkahku untuk pergi ke sekolah, tetapi segera ku tepis rasa itu. Aku harus semangat bersekolah agar orang tuaku tak kecewa.
"selamat pagi anak-anak, hari ini kita akan belajar mengenai manusia prasejarah" ucap seorang guru mengawali pelajaran pagi itu. Ternyata pelajaran sejarah cukup menarik, dan tidak membosankan. Aku merasa geli ketika memperhatikan perawakan guru yang mengajar sejarah itu, mirip dengan manusia purba juga rupanya.
"heh, bengong aja, senyum-senyum pula lu, gila ya" tegur Pina ketus. Aku hanya membalasnya dengan sedikit senyuman. lebih baik menjaga jarak darinya supaya sikapnya tidak semakin berani dalam meminta uang padaku. Aku bukan pendonor yang punya banyak uang untuk dibagi-bagikan padanya. Aku juga masih meminta pada orang tuaku. Orang seperti Pina terlihat seperti kekurangan kasih sayang dari keluarganya, sehingga ia mencari perhatian dari lingkungan dengan cara seperti itu.
Seperti biasa aktifitasku seusai sekolah hanya makan, istirahat, mandi, belajar dan selalu begitu. Aku mulai terbiasa dengan kehidupan di lingkungan rumah paman, tetapi aku bukanlah orang yang terbiasa ngobrol ke tetangga, aku memilih diam dirumah sambil menonton acara televisi. Hari ini sebelum belajar aku menonton acara kesukaanku "Termehek-mehek". Ya mungkin memang itu tidak sepenuhnya realita, tapi jika sudah menyukainya ya tetap saja suka. Hari ini acara tersebut berkisah tentang seorang ibu yang membiarkan anaknya di adopsi oleh Tuan dimana dia bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Jika dipandang dari sisi negatif, memang ibu tersebut terlihat jahat karena tega membiarkan anaknya diadopsi, namun jika dilihat dari sisi positif perbuatan ibu itu tidak salah, karena menginginkan kehidupan yang terbaik bagi anaknya. Seperti orang tuaku yang menginginkan sekolah terbaik bagiku.
"Nin, di panggil kepsek tu" ujar Fita mengagetkanku. "ah, apa lagi ini, perasaan nggak ada salah apa deh. kenapa pake dipanggil pula" fikirku sambil melangkah menuju ruang kepala sekolah.
"tok, tok, permisi pak", "iya silakan masuk" ucap kepala sekolah mempersilahkanku. "besok ada festival pakaian adat di kabupaten, kamu ikut ya" sambung kepala sekolah. Aku terdiam sejenak, tapi segera ku iyakan perintah kepala sekolah. Sedikit terkejut aku mendengar ucapan kepala sekolah tadi, namun aku sangat bersyukur bisa diikutkan dalam even tersebut. Sekarang yang harus aku persiapkan adalah bagaimana caranya besok pagi bisa bangun subuh.
"paman besok Nina ikut festival pakaian adat di kabupaten, paman bisa anter kesalon yang di booking sekolah besok subuh?" tanyaku pada paman, "bagus itu, ya besok paman anter kamu" puji pamanku sekaligus setuju untuk mengantarkanku.
Pukul 3 pagi aku terbangun karena alarm yang ku hidupkan. kusambar handukku dan segera pergi kekamar mandi. Lampu kamar mandi pamanku agak suram, karena menggunakan lampu pijar. Ketika sedang asik mandi, aku menengok kearah atap samping. Tiba-tiba kulihat sepasang mata sedang memperhatikanku mandi. Ia segera menghilang ketika disadari aku telah memergokinya. Kali ini aku benar-benar terdiam tidak tahu apa yang harus kukatakan. Hanya di hatiku bertanya-tanya apakah benar yang kulihat tadi ataukah aku salah lihat. Tidak mungkin aku salah lihat, karena itu sangat jelas untuk beberapa saaat. Di saat itulah aku merasa shock, tidak menyangka ini yang akan ku alami. Pamanku sendiri melakukan hal itu pada ku yang merupakan keponakannya sendiri. remuk rasanya hatiku menyadari hal ini, layu jiwaku. Tak terasa air mataku jatuh membasahi pipiku. Kutepis dulu rasa sakitku, aku harus pergi kesekolah. Mungkin lebih baik kupendam sendiri semua kejadian memalukan yang aku rasakan ini. Dia memang bukan paman yang biasa ku ajak berdiskusi, dia adik ayahku yang bungsu.
"Nin, ayo berangkat" panggil pamanku, "iya paman sebentar lagi, masih sisiran Nina" sambung ku.
sepanjang perjalanan ke salon di dekat sekolahku, aku berfikir keras. Apa yang harus aku lakukan, sungguh aku malu dengan semua yang telah terjadi. Hatiku benar-benar terasa amat sakit. Tuhan apa lagi cobaan yang datang dalam hidupku, mengapa terlalu berat begini. Apakah tidak ada cara lain yang dipilih Tuhan untuk mengujiku. Ataukah ini yang kata orang karma. Ah, aku tak terlalu percaya pada karma. Ya mungkin ini nasib buruk yang harus aku terima.
"kamu hati-hati ya, nanti kalau pulang turun di depan gang rumah aja ya, ini sedikit bekal untukmu Nin" ujar pamanku, "iya makasi paman. Nanti kalau sudah pulang, Nina bakal langsung pulang" ucapku meyakinkan pamanku.
Aku segera menuju perias di salon itu. Setelah selesai berias kami semua yang mengikuti festival itu berangkat menggunakan bus yang di sewa oleh sekolah. Kepala sekolah tidak terlihat di bus itu. Setelah ku cari tahu ternyata kepala sekolah telah menanti kami di kabupaten.
"wah Ada stasiun tv yang meliput kita lo, kita msuk tv, asikk!!" seru seorang teman yang juga mengikuti festival itu.
Hatiku merasa sedikit terhibur dengan hiruk pikuk di acara festival. Sedikit bisa menjadi pelipur laraku untuk sementara. Kira-kira pukul tiga sore acara telah usai. Kami pun beranjak pulang.
"stop pak, saya turun disini saja, rumah saya tidak jauh dari sini" ujarku pada pak sopir.
aku berjalan gontai, kakiku cukup lelah mengitari lapangan selama festival tadi.
"sudah sampai Nin? bagaimana acaranya tadi?" tanya bibi sesampaiku di rumah.
"sudah bi, acaranya bagus, Nina masuk tv lo bi" jawabku dengan riang.
Kemudian aku berganti pakaian dan segera ku basuh tubuhku. Di kamar mandi kembali aku teringat kejadian pagi tadi. Ah, semakin sakit jika terus ku ingat. Sebaiknya aku mmelupakannya atau menganggapnya tak pernah terjadi. Malam ini harusnya aku bisa tertidur pulas, karena rasa lelahku seharian. Ternyata sulit terpejam mata ini, mungkin karena beban fikiran yang terlalu berat saat ini. Aku panjatkan doa pada Tuhan agar bisa nyenyak tidurku malam ini.
"gimana kemarin festivalnya Nin? kamu hebat ya, baru aja pindah udah bisa ikut acara kayak gtu" tegur Fita yang sejak tadi terlihat asik dengan novelnya. "yah lumayan lancar, capek tapi seneng Fit. Aku cuma kebetulan aja Fit, nggak tau juga kenapa bisa dipilih" sambungku.
Tidak ada yang istimewa hari ini disekolah, sama seperti hari-hari lainnya. Sampai disekolah ya hanya belajar kemudian pulang lagi. Belajar, tidur dan sekolah lagi. Begitulah selanjutnya. sampai kejadian tempo hari telah bisa ku lupakan. Aku bersikap biasa saja pada pamanku yang mengintipku tempo hari, anggap tak pernah terjadi hal itu. Jadikan sebuah pelajaran dalam kamus hidupku. Sepertinya itu pelajaran yang akan membuatku memiliki sikap tidak percaya terhadap siapapun juga, meskipun itu saudaraku.
"Nin nanti sore ada tetangga yang nikahan, kamu pergi menghadiri ya, bibi ada urusan sedikit" suruh bibi padaku siang itu. "iya bi nanti Nina saja yang pergi".
Di acara tetangga bibi ku banyak pemuda pemudi yang hadir, tapi aku tak mengenal mereka. Kudengar samar mereka berbisik-bisik membicarakanku. Ah, masa bodoh dengan mereka, aku tak ada urusan dengan mereka. Setelah sepuluh menit aku berada di sana kemudian aku pamit pulang pada empunya acara. Ternyata cukup asik pergi ke acara seperti itu, bisa cuci mata. Malam nanti pastinya akan bermimpi menikah aku ini. Maklum pengaruh acara tadi cukup kuat melekat dalam ingatanku.
Pagi-pagi sekali aku berangkat menuju sekolah agar aku tidak ketinggalan bus. Jika aku menunggu bus ketiga, maka aku akan terlambat tiba di sekolah.
"Nin, besok kan hari minggu, rencana kita-kita mau main ke Parang Tritis ni, kamu ikut ya" ajak Fita. "iya deh, nanti aku ijin paman ku dulu ya. sama siapa aja perginya" sambungku.
"ada 6 orang Nin, temen-temen sekelas kita semua Nin" ujar Fita. kemudian aku mengangguk tanda setuju.
Sesampai di rumah, aku langsung membicarakan rencana tamasya ku pada bibi dan paman. Mereka memberiku ijin, asalkan aku bisa menjaga diri dengan baik, dan akupun mennyanggupi kata-kata paman dan bibi.
"ayo kita berangkat" ujarku pada teman-teman yang sejak tadi telah menunggu kedatanganku. Kami sepakat bertemu didekat sekolah, dan aku sedikit terlambat datang, karena harus menyelesaikan sarapan di rumah. Perjalanan kami amat menyenangkan, banyak tempat yang belum pernah ku lihat sebelumnya. Sungguh indah ciptaan Tuhan yang Maha Agung.
"taraaa, kita udah nyampe di Parang Tritis Nin" teriak seorang temanku, spontan aku terbangun dari lamunanku "oh, iya, waw bagus banget ya tempatnya, ombaknya indah".
"nggak salah kan aku ngajak kamu ke sini Nin?" tanya Fita tiba-tiba, "nggak ko Fit, malah bener banget ni tujuan kamu, aku bener-bener suka, makasi ya".
Bukit-bukit kecil menghiasi sekeliling Parang Tritis. Banyak pasangan dan keluarga yang bertamasya di sana. Kuperhatikan dari kejauhan ada beberapa turis asing yang sedang menikmati keindahan tempat ini. Kususuri tempat ini, hingga ku temukan pedagang kelapa muda. Aku berhenti untuk melepas dahagaku.
"bu, es kelapa nya satu ya" pintaku ke penjual itu.
entah di mana teman-temanku, mereka asik mencari kesenangan tersendiri, begitupun denganku. Air kelapa membasahi tenggorokanku, sangat segar sekali. Dari dulu aku sangat gemar dengan minuman yang satu ini, bahkan rela aku mengeluarkan kocek lebih untuk memperoleh kelapa yang tingkat kemudaannya bagus.
"Nina!!! udah sore ni, ayo kita pulang, nanti terlalu malam sampai dirumah" teriak teman-temanku menyadarkan lamunanku.
"eh, iya, ayo pulang" ujarku singkat.
diperjalanan pulang aku merasa sangat lelah, karena seharian menyusuri Parang Tritis. Akan tetapi ada kepuasan tersendiri yag kudapatkan. Terima kasih teman-temanku, kalian memang teman terbaik yang kumiliki saat ini.
"aku turun sini saja, udah dijemput pamanku" pintaku pada Fita. Fita mengangguk, kemudian mengucapkan selamat tinggal padaku.
Tiba-tiba jantungku berdetak kencang saat melihat nya menjemputku. Tentu bisa kalian tebak siapa dia. Dia adalah paman yang telah mengintipku dulu. Aku gelisah, tetapi tak kuperlihatkan kegellisahanku dihadapannya. Hari sudah cukup malam ketika aku dan pamanku tiba di rumah. kemudian ketika aku hendak masuk kamar, tiba-tiba ia pamanku menarikku ke sofa, dia memelukku erat dan mencium bibirku. Saat itu terasa hancur semua harapanku dan masa depanku. Air mata membasahi pipiku. Aku yang masih duduk di bangku SMP ini hanya tau bahwa itu perbuatan orang yang tak beradab. Apapun dan siapapun dia, perbutannya kali ini sungguh tak bisa ku tolerir lagi. Setelah aku terlepas dari cengkraman maut, aku menangis tersedu-sedu di kamarku. Menangisi betapa bodohnya diriku yang tak bisa melawan. Diriku yang hanya bisa diam ketika diperlakukan seperti itu. Ah, kenapa aku harus tercipta menjadi seorang wanita yang lemah. Tuhan tak adil tehadapku, Dia memberiku cobaan yang melewati batas kemampuanku. Aku tak bisa berfikir jernih, hanya bisa menangis dan mengutuk orang biadab yang telah melakukan ini padaku. Tidak ada lagi saudara, ataupun ikatan darah. Semua yang di dunia ini hanyalah topuan semata yang membunuh diri kita sendiri.
Kuambil secarik kertas, dan aku mulai menulis dalam keputus asaanku.

Teruntuk
Ayah dan Ibu Tercinta

terimakasih telah membasarkan ananda, mengasihi serta membimbing ananda hingga hari ini. sungguh begitu kasih kalian terhadap ananda. ananda merasa sangat beruntung dilahirkan dalam keluarga ini. kali ini ananda memohon maaf yang sebesar-besarmya pada ayah dan ibu apabila ananda tidak bisa mambuat ayah dan ibu bahagia. semoga ayah dan ibu selalu bahagia di dunia ini. ananda pasti akan merindukan kalian semua.

dengan Cinta
Nina

Itulah isi surat yang kutulis untuk orang tuaku. Kuletakkan surat itu di tas sekolahku, berharap mereka akan menemukannya esok hari. Malam ini aku terpaksa tidur dengan kehidupanku yang telah hancur. air mataku tak mampu lagi megalir, mungkin sudah terlalu sakit sehingga mataku tak bisa merasakannya lagi.
Pagi-pagi sekali aku bangun dengan terhuyung-huyung. Tak satupun di rumah ini yang sudah bangun kecuali aku. Kulangkankan kakiku menuju Waduk yang terdekat dari kediaman pamanku. Dalam hati ku ucapkan berjuta maaf dan berjuta kerinduan pada orang tuaku. Sesungguhnya aku sangat merindukan kalian, tetapi aku tak pantas menemui kalian lagi. Tak terasa aku telah sampai di Waduk, kuamati setiap sudut waduk ini. Airnya tenang, kicau burung terdengar dikejauhan. Sepertinya ia menyambut kehadiranku ini. Ah, dingin sekali rupanya air ini. Itu yang kurasakan ketika kakiku menyentuh air Waduk ini. Perlahan tetapi pasti aku melangkah ketengah waduk yang semakin dalam, meninggalakan semua yang kucintai.


*Cerita ini sy dedikasikan untuk seorang teman yang masa depannya telah hancur karena pelecehan seksual yang ia alami. Pesan yang sy tanamkan dlm crta ini sesungguhnya supaya siapapun yang mengalami hal seperti ini, bukanlah merupakan akhir dari segalanya. Tataplah ke depan, karena masa depan menyambutmu denga senyumnya yang indah.

Sunday, March 18, 2012

Benderang Puputan Badung


Sorot lampu lapangan Puputan Badung menyinari raut wajah yang sepertinya sedang menahan beban. Ya, itu memang wajahku, wajah yang berusaha menutupi segala keresahan yang kurasakan dari sahabatku yang ku ajak bersama malam itu. "kenapa tumben malam minggu malah jalan denganku, bagaimana acara nge-date dengan pacarmu?" tanya sahabatku dengan rasa curiga. Ah, sebenarnya aku enggan sekali mengatakan apa yang sedang ku rasakan saat itu, tidak ingin membuatnya merasa khawatir terhadapku. Ya, memang benar aku hanya diam sambil tersenyum menanggapi pertanyaannya seraya berjalan menuju penjual jagung. "mas ini jagung manis atau biasa ya", "manis mbak" jawabnya singkat. Aku memilih jagung rebus karena baru pulih dari infeksi tenggorokan yg menimpaku tempo hari, sedangkan sahabatku memilih jagung bakar. Ya, dia memang sangat menyukainya. Sesekali aku menatap ke arah kantor pemerintahan yang ada diseberang lapangan. Di gerbangnya ada seorang tentara yang sedang berjaga, sepertinya cukup rupawan. Samar ku dengar ia sesekali memanggil kami dengan maksud menggoda. Aku hanya tertawa kecil melihat tingkah lucunya itu. Setelah membayar jagung, kami berjalan menuju tengah lapangan sambil menerawang di mana ada sedikit ruang untuk kami duduk. Tiba-tiba sahabatku memecah lamunanku "kayaknya di tengah lapangan itu cukup bgus tempatnya untuk menikmati suasana di sini", "oh, iya sepertinya juga begitu" jawabku. Kami kemudian duduk di sana, ya tempat yang cukup nyaman memang. Di belakang kami ada pedagang *"arum manis" dan *"kitiran", didepan ada sepasang dewasa yang sedang memadu kasih, disamping kiri agak jauh dari tempat kami duduk ada beberapa laki-laki yang sedang berkumpul dan disamping kanan sebuah keluarga bermain-main dengan anak balita mereka.
"kenapa kamu sebenarnya, dari tadi aku melihat wajahmu dan kelakuanmu aneh tidak seperti hari-hari lain, ceritalah kalau ada yang mengganggu fikiranmu" sela sahabatku, "ah, cuma perasaanmu saja, aku baik-baik saja tidak terjadi apapun, hanya saja ingin mengobrol bersamamu" tetapi sesungguhnya bukan itu yang ada dibenakmu, ada keresahan yang ku sembunyikan. Sambil tersenyum sinis aku berfikir sahabatku memang selalu jeli menebak suasana hatiku, tak salahlah dia yang menjadi tempatku berkeluh kesah meminta bantuan dan nasihatnya. "ah, apalah yang mereka peroleh tiap malam melakukan "sing n dance" disini tiap malam" fikirku ketika memperhatikan sekelompok orang di pojok lapangan. Memang beraneka macam orang, pasangan, dan kelompok yang ada disini tau lebih tepatnya bisa dikatakan taman bermain, karena lebih banyak anak-anak yang bercanda ria disini. "tunggu sebEntar, aku mau beli arum manis dulu ya, jagung udah habis ni, hehe" ucapku pada sahabatku. "pak berapa satu, saya mau satu yang putih ya", " 3000 mbak," kata si penjual arum manis padaku. Aku menikmati arum manis hampir sendirian, karena sahabatku kurang berminat untuk arum manis malam itu. Kami lebih banyak diam menikmati suasana Puputan Badung, hanya sesekali tertawa melihat hal-hal di sekitar kami.Ingin sekali rasanya aku bercerita padanya tentang yang kuresahkan hari itu, tetapi rasanya seperti ada batu kedondong yg menyangkut ditenggorokanku sehingga tak sepatah katapun terucap dari Bibirku. Hah, memang tidak nyaman rasanya jika harus menyimpan semuanya sendirian, apa daya kali ini rasanya lebih baik diam dulu. Tiba-tiba ada seorang balita yang sangat manis lewat didepan kami bersama ayahnya. Terfikirlah olehku betapa senangnya menjadi balita itu bisa tertawa riang yang tidak harus memikirkan masalah-masalah yang ada saat beranjak menjadi orang dewasa. Andai bisa waktu diputar kembali, ingin sesaat merasakan masa itu lagi.
"ayo kita cari soto atau apa gitu, setelah itu baru kita pulang" ucapku pada sahabatku setelah merasa cukup lama menikmati suasana Puputan Badung yang ramai. "maunya kemana, gimana kalau ke *"Kreneng" aja?" tanyanya padaku. Aku mengangguk tanda setuju. "Kreneng" cukup terkenal dengan pusat makanannya pada saat malam hari, apapun yang kita cari tersedia disana, tentunya dengan harga yang pas dengan kantong mahasiswa seperti kami.
Kami melangkahkan kaki kami menuju parkir dimana kami meletakkan motor. Sesekali terdengar para laki-laki menggoda kami. maklum saja kami hanya berdua, yang biasa mereka lihat kebanyakan pergi dengan pasangannya, tetapi kami dua orang wanita. Cukup lucu memang, tetapi mungkin lebih tenang rasanya begitu malam itu. Ada sedikit kejadian konyol saat hendak mencari letak motor, kami lupa sama sekali dimana meletakkannya. Padahal kami belum setua itu rasanya, tetapi ingatan kami sudah seperti umur 40-an. Untunglah segera kami menemukan motor kami. Jarak antara Puputan Badung dan "Kreneng" cukup dekat, Hanya sekitar 300 meter. Sesampai di "Kreneng" kami memilih parkir ditempat yang mudah diingat, agar tidak lagi terjadi seperti di Puputan Badung. Suasana malam itu di "Kreneng" sangat ramai. Kami harus berjalan agak ke dalam untuk menemukan soto ayam yang tidak terlalu ramai pengunjung. Ahirnya kami menemukannya juga, rasanya sudah tak sabar menyantapnya. Sahabatku meminta pendapatku "di sini mau? atau mau cari yang lain dUlu?" , "ya, di sini aja, gx terlalu sepi dan gx terlalu ramai juga kan, kayaknya sih enak" ucapku. "mas, soto ayam dua, minumnya teh hangat dua, satu tanpa gula ya tehnya" teriak sahabatku memesan soto. Tak lama, pesanan kami pun datang, segera saja kami menyantapnya. Ya, memang benar rasanya lumayan enak tidak mengecewakan lidah kami. Baru saja setengah kami menyantap soto, tiba-tiba angin sangat kencang disertai hujan deras. Pengunjung "Kreneng" semua berlarian ketakutan sambil komat-kamit berdoa memohon keselamatan. Kami berusaha tak panik dengan tetap melanjutkan santapan kami, tetapi dalam hati sungguh rasanya gelisah sekali sepertinya malam itu hendak berakhir nafas ini. Aku dan sahabatku berdoa dalam hati memohon kemurahan hati Yang Esa untuk meredakan amarahnya malam itu pada manusia. Semua tenda-tenda penjual makanan di "Kreneng" hendak roboh, mereka berusaha menahan tenda tersebut agar tidak sampai roboh. Ada orang tua, muda, dan anak-anak yang berlindung di bawah tenda-tenda itu. Air mulai menggenangi kawasan "Kreneng", sungguh tak bisa ku bayangkan yang akan terjadi malam itu. Kenyataaan yang terburuklah yang ku perkirakan. Handphone pun tak berani ku hidupkan, karena petir sangat kuat dan menakutkan sekali. Setelah cukup lama, para pedagang mulai membongkar tenda mereka, kami pun memutuskan untuk menerobos hujan. Kami berlari kearah tempat parkir, untungnya setelah sampai ditempat parkir angin mulai mereda tak sekencang pada saat awal hujan. Dengan menggunakan jas hujan kamipun menerobos pulang kerumah. Mungkin jas hujan tidak terlalu membantu kami, karena sebelumnya kami sudah basah kuyup. Di perjalanan pulang aku merasakan kepala ku sakit sekali, tanda-tanda keadaan tubuhku kurang sehat. Aku menguatkan diriku agar aku tiba di indekost dengan selamat. Setelah cukup dekat dengan rumah sahabatku, kami berpisah, karena jarak indekost ku masih sekitar 300 meter dari rumah sahabatku. "hati-hati ya" ucap sahabatku memperingatkanku, "ya pasti, kamu juga mandi sampai di rumah supaya gx sakit ya" balasku. Sesampai di indekost aku langsung membasuh tubuhku takut semakin buruk kondisi tubuhku jika tak segera dibasuh. Kemudian selesai membasuh tubuh, aku mengakses facebook dan mengaktifkan handphone ku sejenak menunggu rambutku setengah kering. "sudah di kos?" itulah sms yang tertera di layar handphone dari sahabatku. "sudah, qm udah mandi biar gx sakit" balasku. Sambil menunggu sms selanjutnya aku menulis status di facebook, "thx u sista, n i'am sorry make u wet" tulisku pada kolom update status facebook. Setelah kurasa cukup kering rambutku, segera ku matikan laptop kemudian menyambangi tempat tidurku. Saat ku cek handphone ada sebuah sms yang bertulis "sudah mandi baru aja". Ya, sudah bisa ditebak sms itu dari sahabatku. Kuketik pesan untuk membalas sms sahabtku "syukurlah, ya aq bobo duluan ya, kpla skit bnget, night". Akupun pergi tidur, di benakku terbersit rasa bersalah, karena sahabatku basah kuyup juga sepertiku dan aku juga sangat berterimakasih padanya yang selalu ada disaat apapun. Di lain sisi ada yang masih mengganjal di hatiku karena belum bisa berkata jujur tentang keresahanku malam itu.

nb: *Kitiran = mainan anak-anak yang bisa terbang seperti baling-baling dan ada lampunya.
*Kreneng = terminal sekaligus pasar Tradisioanl dan pasar malam di Denpasar, Bali, dikenal sebagai pusat makanan dan pakaian murah saat malam hari.
*Arum manis = makanan ringan yang di olah dari gula pasir yang digiling putar
sehingga terbentuk benang-benang halus yang kemudia menjadi gumpalan seperti busa.

Thursday, March 8, 2012

believe or not


handphone q bergetar ketika q sedang tertidur sore itu, tapi belum juga q terbangun. 4 menit kemudian aq terbangun, kubuka mata q perlahan dan q buka pesan di handphone. terlihat 3 pesan di handphone q, tetapi yang membuat q terkejut adalah pesan dr nomor handphone q sendiri yang berisikan "hey ayu, wake up now u want go to learn, bye ". aq tidak pernah mengirim pesan sebelumnya menggunakan handphone q ke nomor q sendiri, dan handphone q pun terletak ditempat tidur. aq pun tertidur dengan sadar bukan tidur dengan nyenyak. aq mulai bingung, memang benar hari itu aq ada jam kuliah sore sekitar pukul 5 sore. tetapi aq tidak pernah bercerita apalagi mengatakan pada orang lain untuk membangunkanku. ini sungguh di luar nalarku. sampai di kampus pun aq tetap tidak bisa konsentrasi karena memikirkan sms yg dikirim oleh nomor q sendiri. sejak lahir hingga saat ini baru pertama kali aq mengalami kejadian seperti ini. yang anehnya pesan tersebut dalam bahasa inggris, seolah mengerti bahwa aq menyukai bahasa ini. aq percaya Tuhan mahakuasa, tetapi apakah ini caraNya menyapa q, ataukah ini hanya fantasi q??
akan tetapi jika ini sebuah fantasi, bagaimana bisa ini terjadi? tidak ada pesan terkirim dari nomor ku untuk nomorku, yang ada hanya pesan yg q terima dari nomor q sendiri. sampai saat ini pesan tersebut masih kusimpan dengan baik di handphone q. dari kejadian ini aku semakin yakin bahwa Tuhan punya banyak cara untuk menegur umatnya, dan Tuhan selalu ada untuk umatnya, baik itu buruk atau baik tetap Ia sayangi dengan sepenuh hati. Terimakasih Tuhan Kau sentuh aku dengan kasihMu yang amat besar. sungguh sebuah keajaiban yg kurasakan oleh karena Mu ... semoga aq bisa menjadi umat yg bisa mengasihiMu dengan caraku dan dengan jalan yang baik ...

Saturday, October 15, 2011

Try To Be Wise

Terkadang dunia terlihat kejam dan sangat indah, begitu pula dengan hidupku. Aku memiliki dua saudara perempuan dan dua saudara laki-laki. Saat ini aku indekost bersama saudara perempuan

ku yang pertama, kami sama-sama sedang menempuh pendidikan perguruan tinggi. selisih umur kami pun hanya 1 tahun. perbedaan umur kami yang hanya 1 tahun ini membuat banyak perbedaan pada kami, yang paling mendasar adalah karakter kami yang tentunya 180 % berbeda. Saya bukan orang yang suka mengulang kata-kata saya, juga bukan orang yang suka ditentang, serta sdkit temperamen. sedangkan adik saya adalah seseorang yang santai dalam segala hal, tidak bisa menjalankan nasehat bila hanya sekali dua kali diberitahu. Dari sekian ketidaksamaan kami menimbulkan perselisihan diantara kami, dan ini berlangsung hampir setiap hari. Saya yang notabene adalah orang yg sedang melatih kesabaran tentunya lebih cepat terpancing emosi dengan semua perkataan negatif adik saya. Sampai suatu ketika saya tak berkeinginan pulang ke kamar kos saya dan memutuskan untuk menginap di kos teman satu kampus saya. Detik, menit, jam pun berlalu, tetapi tidak ada tanda-tanda telefon ataupun smz dari adik saya. Pada saat inilah keegoan saya muncul dan saya merasa sangat sedih, karena ternyata kepergian saya tidak membuatnya iba. Tetapi kembali saya berfikir dengan jernih tidak mementingkan ego saya. Akhirnya keesokan hari saya kembali pulang ke kos, kemudian saya sapa adik saya agar suasana bisa mencair. Berat rasanya harus seperti itu, tapi saya adalah manusia yg harus belajar untuk berbuat lebih baik dari hari kemarin.

Haripun berganti, saya semakin sadar akan segala keburukan dalaam diri saya, dan saya mencoba memperbaikinya. Saya pun lebih banyak bergaul dengan orang-orang yang mempunyai aura positif untuk diri saya. Semua hal berusaha saya perbaiki, tetapi hal tersulit adalah melatih hati saya untuk ikhlas menerima segala perkataan buruk dari siapapun itu. Ternyata saya belum bisa melatihnya secara meksimal, karena ketika setiap kali perselisihan muncul lagi dengan adik saya, dan setiap adik saya mengeluarkan kata-kata yang seharusnya tak dia ucapkan pada saya, terus terang hati saya merasa sangat sakit, sangat tersayat. Ingin rasanya membela diri dan kembali menggunakan ego, akan tetapi saya sesegera mungkin mencoba mengendalikan hat saya dan fikiran saya. Kemudian saya berfikir bahwa lebih baik saya diam dari pada berbicara tapi hanya akan menambah masalah. Meskipun saya sadari bahwa ada rasa sakit yang terselip di hati ketika harus melakukan hal itu. Tapi satu yang saya tau, bahwa saya harus siap berkorban jika saya ingin mengubah pribadi saya menjadi semakin baik dan semakin baik lagi dari hari ke hari. Benar saja semakin hari kemarahan saya semakin berkurang meskipun terkadang out of control. Tapi saya merasa senang karena sebagai seorang kakak saya perlahan bisa membuktikan pada adik saya bahwa saya manusia yang selalu mengusahakan kebaikan bagi pribadi saya yang penuh kekurangan untuk menjadi pribadi yang super, dan tentunya itu akan butuh waktu seumur hidup saya.

"Ketika kita menjadi manusia yang paling hina sekalipun, jangan pernah merasa takut untuk bangkit menuju cahaya putih, karena hidup adalah liku-liku dengan kerikil-kerikil tajam didalamnya"

Wednesday, June 29, 2011

Attitude Mahasiswa


Attitude atau sikap adalah bentuk refleksi atau cerminan dari filter nilai atau prinsip-prinsip hidup yang ada pada diri seseorang. misalnya pada saat pemilihan presiden yang dilakukan secara langsung, ketika seluruh masyarakat berhak memilih siapa yang mereka pilih untuk menjadi pemimpin bangsa. bagi masyarakat yang merasa bahwa visi dan misi calon presiden dan calon wakil presiden pada setiap pemilihan umum disampaikan tidak lebih hanya sebagai janji-janji kosong yang tidak pernah dipenuhi.
Filter nila yang mereka miliki adalah bahwa siapapun calon presiden dan wakilnya yang berlaga pada setiap pemilihan umum tidak memberikan harapan untuk menuju kehidupan yang lebih baik bagi rakyatnya pada waktu-waktu berikutnya.

Sehingga filter nilai yang dimiliki sebagian masyarakat seperti ini akan tercermin dari sikap apatis terhadap pemilihan umum dan tidak menggunakan hak pilihnya atau memilih untuk golput. Sedangkan bagi sebagiian masyarakat yang memiliki rakyat dari visi dan misi yang disampaikan oleh para calon, akan mengambil sikap untuk menggunakan hak pilihnya pada pemilu tersebut. Jadi, sikap seseorang akan tercermin dari filter nilai yang dimilikinya.

Sikap yang dimiliki seseorang sangat berpengaruh terhadap kinerjanya dalam melakukan tugas dan pekerjaanya. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki filter nilai yang menyatakan bahwa memberikan manfaat kepada orang lain adalah suatu kesuksesan hidup, maka sikap yang terpancar darinya adalah sikap yang selalu ingin melayani orang lain. Dengan sikapnya tersebut, dia akan bisa ditempatkan pada posisi customer service misalnya, karena posisi tersebut sesuai dengan sikap yang dimilikinya dan tentu saja akan menghasilkan kinerja yang baik dalam menjalankan pekerjaannya.

Contoh lainnya adalah perkuliahan di perguruan tinggi. seorang dosen yang berprinsip bahwa segala sesuatunya harus jadi uang, barangkali akan bersikap transaksional terhadap institusinya. Sikap ini dicerminkan dalam tindakan-tindakannya semisal memprioritaskan kuantitas pengajaran daripada kualitas pengajaran. Dosen model begitu akan mengajar tidak sepenuh hati. kurang memberikan kesempatan kepada mahasiswanya untuk bertanya, berargumen, atau berdiskusi mengenai mata kuliah yang diajarkannya. yang penting dia sudah menggugurkan kewajibannya mengisi jam kuliah kepadanya, tidak lebih.

Sebaliknya, dosen yang memiliki filter nilai bahwa mengajar itu merupakan bentuk pengabdian kepada institusi, berupa pemberian ilmu dan manfaatnya kepada para mahasiswa, serta berprinsip bahwa kewajiban manusia adalah berikhtiar-kalau dia seorang dosen melalui transfer ilmu-untuk menjemput rezekinya yang telah diatur dan ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Esa, akan bersikap lebih baik mementingkan kualitas pengajaran dan secara otomatis berdampak pada kuantitas pengajaran yang dipersyaratkan. Dosen ini akan merefleksikan sikapnya dalam tindakan-tindakannya untuk membuka ruang bertanya, berargumentasi, berdiskusi, dan sebagainya. Intinya, dosen mengajar dengan sepenuh hatinya.

Sikap yang dimiliki para mahasiswa pun bisa berbeda, bergantung pada filter nilai yang ada pada dirinya. Ada yang berprinsip bahwa kuliah hanya untuk memenuhi keinginan orangtuanya, sehingga sikap negatifnya adalah acuh tak acuh saja terhadap perkuliahan, karena kuliah bukan keinginannya. Mahasiswa yang bersikap positif dengan belajar sungguh-sungguh demi pengabdian yang tulus pada orangtuanya. Ada yang menyatakan bahwa dengan mengikuti kuliah akan memberikan bekal untuk sukses ketika menjadi propesional pada industri-industri. Atau ada yang hanya bersikap hura-hura, hidup glamor, dan lain-lain. Kuliah hanya mencari status sebagai mahasiswa saja.

Begitu penting sikap ini, sehingga ilmu pengetahuan yang dimiliki dan keterampilan yang dipahami akan sia-sia saja manakala seseorang memiliki sikap yang negatif. Artinya suatu institusi pendidikan yang hanya memberikan banyak ilmu pengetahuan kepada peserta didik tanpa dibarengi dengan pendidikan sikap yang baik, maka dipastikan hanya akan melahirkan manusia-manusia yang pintar dari segi logika-matematika. Akan tetapi mahasiswa mungkin kurang dalam pemahaman tentang norma-norma agama dan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat yang sarat dengan nilai-nilai kebaikan dan kebenaran sebagai nilai dari sikap yang positif.

Tuesday, June 28, 2011

BABAD DALEM TARUKAN



I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sampai saat ini isi babad masih diyakini dan dihormati, karena dipandang memiliki nilai-nilai luhur yang harus dijunjung oleh keturunannya. Petuah leluhur yang sudah dipandang suci sangat tinggi nilainya, bahkan sering dinilai sacral, sehingga tabu untuk dilanggar, umumnya dikenal sebagai Bhisama. Menurut Zoetmulder (Kalangwan, 1985), istilah bisama berasal dari kata wisama (sansekerta), artinya bermacam-macam seperti: berbeda, aneh, tak seimbang, sukar. Kebenaran bisama diyakini dari kebenaran ilmiah, kebenaran filosofi, dan kebenaran religious. Di sini diungkapkan bisama dan nilai-nilai luhur, terutama berkaitan dengan prilaku, kehidupan Ida Dalem Tarukan.

1.2 Tujuan
Adapun tujuan penulisan paper ini adalah:
1. Mengetahui sejarah Sentana Dalem Tarukan.
2. Menggali lebih dalam makna yang terkandung dalam babad.
3. Memenuhi tugas mata kuliah Acara Agama 1.





I. PEMBAHASAN

2.1 Asal-Usul Ida Dalem Tarukan
Majapahit yang dipimpin Raja Putri : Sri Ratu Tribhuwanottunggadewi Jayawisnuwardhani bersama Patih Agung : Gajah Mada berhasil menguasai Kerajaan Bali Aga yang di pimpin oleh Raja : Paduka Bathara Sri Asta Asura Ratna Bumi Banten (dikenal dengan nama : Bedahulu) dengan Patih : Ki Pasung Grigis dan Ki Kebo Iwa, pada tahun 1343 M atau isaka 1265.
Pimpinan Pemerintahan sementara diserahkan kepada Mpu Jiwaksara yang kemudian bergelar Ki Patih Wulung. Beliau menempatkan pusat Pemerintahan di Gelgel. Walaupun Bali sudah dikalahkan Majapahit, tidak berarti rakyat dan tokoh-tokoh militer Bali Aga sudah menyerah. Mereka terus mengadakan perlawanan di bawah tanah, dan sekali-sekali muncul ke permukaan, misalnya pemberontakan yang dipimpin oleh Ki Tokawa di Ularan, dan Ki Buwahan di Batur.
Setelah tujuh tahun barulah pemberontakan-pemberontakan dapat dipadamkan, namun rakyat Bedahulu masih belum mau menerima kehadiran “si-penjajah” sepenuh hati. Melihat keamanan sudah membaik dan Pemerintahan sudah dapat berjalan sebagaimana mestinya, maka pada tahun 1350 M atau 1272 isaka, Ki Patih Wulung berangkat ke Majapahit untuk menghadap Sri Ratu. Tujuannya adalah melaporkan situasi di Bali dan memohon penunjukan seorang Raja di Bali Dwipa.
Atas saran Patih Agung Gajah Mada, pada tahun itu juga dilantiklah empat orang Raja, putra-putri Sri Soma Kepakisan, untuk memimpin kerajaan-kerajaan yang sudah ditaklukkan, yaitu : Sri Juru, menjadi Raja di Blambangan, Sri Bhima Sakti menjadi Raja di Pasuruan, Sri Kepakisan (putri) menjadi Raja di Sumbawa, dan Sri Kresna Kepakisan menjadi Raja di Bali Dwipa.
Dalem Ketut kemudian bergelar Dalem Sri Kresna Kepakisan, mulai memimpin Pemerintahan Kerajaan Bali Dwipa pada tahun 1350 M atau 1272 isaka. Oleh penduduk Bali beliau disebut sebagai I Dewa Wawu Rawuh. Ibu kota Kerajaan dipindahkan dari Gelgel ke Samprangan (Samplangan). Ki Patih Wulung menjabat sebagai Mangku Bumi.
Dalem Sri Kresna Kepakisan beristri dua, yaitu yang pertama : Ni Gusti Ayu Gajah Para, melahirkan : Dalem Wayan (Dalem Samprangan), Dalem Di-Madia (Dalem Tarukan), Dewa Ayu Wana (putri, meninggal ketika masih anak-anak), dan Dalem Ketut (Dalem Ketut Ngulesir). Istri yang kedua : Ni Gusti Ayu Kuta Waringin, melahirkan : Dewa Tegal Besung.
Dalem Sri Kresna Kepakisan moksah pada tahun 1373 M atau 1295 isaka. Beliau digantikan oleh putranya yang tertua yaitu Dalem Wayan, bergelar Dalem Sri Agra Samprangan. Beliau memerintah secara sah sampai tahun 1383 M atau 1305 isaka, kemudian beliau digantikan oleh adiknya yaitu : Dalem Ketut Ngulesir, bergelar Dalem Sri Semara Kepakisan, memerintah sejak tahun 1383 M atau 1305 isaka sampai tahun 1460 M atau 1382 isaka. Ibu kota Kerajaan dipindahkan dari Samprangan ke Gelgel yang diberi nama baru : Sweca Pura.
Di awal pemerintahan Dalem Sri Agra Samprangan (tahun 1373 M atau 1295 isaka) terasa situasi di Puri Samprangan memburuk, yaitu adanya upaya mengadu domba Raja dengan adik-adik beliau yang dilakukan oleh para Menteri dan pembantu dekat Raja.
Untuk menghindari pertengkaran, maka kedua adik Raja yaitu Dalem Di-Madia dan Dalem Ketut, memilih tinggal di luar istana. Dalem Di-Madia membangun istana dan bermukim di Desa Tarukan, Pejeng, oleh karena itu beliau bergelar : Dalem Tarukan. Dalem Ketut, tidak menetap. Beliau berpindah-pindah dari satu Desa ke Desa lain, menyamar sebagai penjudi ayam aduan; penduduk lalu menjuluki beliau : Dalem Ketut Ngulesir.
Selain untuk menghindari pertengkaran, beliau berdua juga bermaksud menyelidiki dukungan rakyat Bali (Bali-Aga) terhadap pemerintahan Samprangan serta mengadakan pendekatan dengan rakyat. Ide Bethara Dalem Tarukan memilih Desa Tarukan di Pejeng sebagai istana, karena dekat dengan rakyat Bedahulu yang sebahagian besar masih belum mengakui pemerintahan Samprangan.
Sementara itu pergolakan di Puri Samprangan makin memanas, ditandai dengan pemberian julukan yang tidak pada tempatnya kepada Raja, di mana Dalem Sri Agra Samprangan diberi julukan Dalem Ile (Ile=gila), Dalem Tarukan dinyatakan “rangseng” (=gila karena marah), dan Dalem Ketut dinyatakan sangat suka berjudi, khususnya mengadu ayam.
Julukan tidak pada tempatnya yang diberikan kepada para Raja itu sangat bertentangan dengan ajaran agama Hindu yang senantiasa mengajarkan penghormatan tinggi kepada Pemimpin Pemerintahan. Penghinaan kepada Raja itu jelas fitnah, karena jika benar adanya, pasti Maha Raja Majapahit dan Maha Patih Gajah Mada tidak akan tinggal diam. Tindakan pemecatan atau penggantian Raja pasti dilakukan. Selain itu, jika julukan itu benar, para musuh yaitu rakyat Bedahulu akan mempunyai peluang yang baik untuk menggulingkan Pemerintahan Samprangan.
Setelah selesai membangun Puri, Dalem Tarukan menikahi seorang Bidadari dari Gunung Lempuyang. Karena belum mempunyai putra, beliau mengajak kemenakannya, yaitu cucu Dalem Wayan, Raja Blambangan, bernama : Kuda Penandang Kajar untuk tinggal bersama-sama di Puri Tarukan.
Kuda Penandang Kajar adalah seorang pemuda yang tampan, gagah dan mempunyai kekuatan batin yang tinggi, khusus untuk meneliti apakah tanah ada kandungan emasnya atau tidak. Karena itulah Puri Tarukan sangat mewah dan terkesan kaya raya karena dipenuhi ornamen emas murni. Dalem Tarukan sangat menyayangi kemenakannya.
Pemerintahan Samprangan di ambang kehancuran, karena tidak adanya dukungan dari para Menteri dan pembantu Raja. Dalem Wayan merasa perlu memanggil adik beliau yaitu Dalem Ketut untuk diajak kembali tinggal di Puri Samprangan. Maksudnya agar Dalem Ketut turut membantu beliau menyelenggarakan pemerintahan.
Perbekel Kaba-Kaba diutus beliau untuk menjemput Dalem Ketut ke Desa Pandak, tetapi Dalem Ketut menolak karena beliau merasa belum mampu memimpin kerajaan di Samprangan. Jika Samprangan telah dipenuhi oleh para menteri dan pembantu Raja yang tidak setia, apakah beliau akan dapat memimpin dengan baik ?
Sementara Dalem Ketut mencari jalan keluar memecahkan masalah ini, datanglah Kuda Penandang Kajar sebagai utusan Dalem Tarukan memohon Dalem Ketut pulang untuk memimpin Kerajaan Samprangan. Dalem Tarukan sendiri tidak berniat menjadi Raja, karena beliau lebih tertarik kepada profesi kepanditaan. Pesan lain yang disampaikan Kuda Penandang Kajar adalah, jika Dalem Ketut berkenan, beliau dibolehkan menggunakan istana Tarukan.
Walaupun penjemputan kali ini penuh penghormatan dan kemewahan, misalnya dengan kuda tunggangan istimewa bernama I Gagak dan sebuah keris milik Dalem Tarukan yang bernama I Pangenteg Rat, Dalem Ketut tetap menolak permintaan kakaknya itu, sekali lagi dengan alasan belum mampu memimpin atau menjadi Raja.
Kecewa karena tugasnya tidak berhasil, Kuda Penandang Kajar kembali ke Tarukan dengan lesu. Di perjalanan beliau disambar burung gagak hingga destarnya jatuh. Sesampainya di gerbang istana Tarukan, dilihatnya puncak gelung kuri terpenggal. Hanya Kuda Penandang kajar yang melihat demikian, sementara para pengiringnya tidak melihat puncak gelung kuri itu terpenggal. Pertanda buruk ini terkesan mendalam di hati Kuda Penandang Kajar, sampai-sampai beliau jatuh sakit. Dalem Tarukan prihatin pada sakit yang diderita kemenakannya ini.
Sementara itu tersiar berita yang mengagetkan, bahwa para panglima perang Samprangan merencanakan memerangi Kerajaan Blambangan. Dalem Tarukan tidak setuju dengan rencana itu, mengingat bahwa Dalem Blambangan yaitu ayah Kuda Penandang Kajar, masih saudara sepupu beliau. Dalem Tarukan berpendapat bahwa rencana itu mempunyai latar lain, mungkin saja gerakan merebut kekuasaan, yaitu bila prajurit dikerahkan ke Blambangan, Dalem Wayan akan mudah digulingkan.
Dalem Tarukan cepat mengambil inisiatif untuk mengikat tali persaudaraan antara Samprangan dengan Blambangan yaitu dengan menikahkan Kuda Penandang Kajar dengan putri Dalem Wayan, bernama I Dewa Ayu Muter. Dengan ikatan tali persaudaraan itu, perang dapat dicegah. Sakitnya Kuda Penandang Kajar menjadi suatu jalan untuk memohon restu para Dewata. Jika Dewata mengijinkan pernikahan ini, kesembuhan Kuda Penandang Kajar menjadi suatu batu ujian. Pertimbangan lain, Dalem Tarukan melihat bahwa Kuda Penandang Kajar sudah cukup dewasa, dan dari gelagat sehari-hari nampaknya tertarik kepada I Dewa Ayu Muter.
Terucaplah tegur sapa Dalem Tarukan kepada Kuda Penandang Kajar : Duhai anakku, segeralah sembuh; ayah berkeinginan mengawinkan anak dengan I Dewa Ayu Muter.Ternyata permohonan Dalem Tarukan kepada para Dewata terkabul. Kuda Penandang Kajar segera sembuh dan sehat seperti semula. Tentu saja Dalem Tarukan sangat bergembira. Kini beliau merencanakan mewujudkan perkawinan kedua muda-mudi itu.
Untuk meminang tentu saja tidak mungkin, karena posisi Dalem Wayan sangat lemah. Beliau hampir tidak dapat memutuskan sesuatu. Semua keputusan diambil oleh para Menteri. Akhirnya dilaksanakanlah perkawinan secara adat kawin-lari. Awalnya perkawinan itu berjalan lancar, sampai pada malam hari terjadi hal yang merupakan akhir dari keberadaan Puri Tarukan. Kedua mempelai yang sedang berbulan madu di peraduan, tewas berbarengan tertusuk senjata keris. Seorang abdi perempuan pengasuh I Dewa Ayu Muter di Puri Samprangan melaporkan secara tergesa-gesa kepada Dalem Wayan bahwa putri beliau satu-satunya yaitu I Dewa Ayu Muter, semalam telah tewas di Puri Tarukan terbunuh oleh Ki Tanda Langlang. Dalem Wayan tentu saja sangat terkejut dan segera memanggil para menterinya. Seorang panglima perang menyampaikan ceritra yang lengkap, serta memperkuat keyakinan Dalem Wayan bahwa putri beliau bersama-sama Kuda Penandang Kajar benar telah tewas ditikam Ki Tanda Langlang.
Betapa murkanya Dalem Wayan setelah mendapat penjelasan para Menterinya itu. Segera disuruhlah memukul kentongan dengan suara “bulus” sehingga para prajurit segera berkumpul di halaman istana. Di saat itu Dalem Wayan memerintahkan pasukan Dulang Mangap yang dipimpin Panglimanya Kiyai Parembu, menyerang menghancurkan Puri Tarukan serta menangkap Dalem Tarukan hidup atau mati. Dengan bersorak gegap gempita pasukan itu bergegas menuju Puri Tarukan.
Kini diceritakan Ide Bethara Dalem Tarukan di Puri Tarukan. Betapa sedih dan terkejutnya beliau menyaksikan nasib yang tragis menimpa putra kesayangannya bersama menantunya yang meninggal di kamar pengantin justru pada malam pertama yang seharusnya berkesan sangat bahagia. Beliau sadar bahwa kejadian ini adalah puncak upaya yang sangat keji dari orang-orang yang ingin menguasai kerajaan Samprangan. Beliau ingin menyelesaikan masalah ini melalui pembicaraan dengan kakak beliau, tetapi nampaknya keadaan sudah tidak memungkinkan lagi karena Dalem Wayan sudah termakan fitnah. Terdengar pula berita bahwa pasukan Dulang Mangap sedang menuju Puri Tarukan untuk menangkap beliau dan menghancurkan Puri Tarukan.
Di saat yang berbahaya itu beliau cepat berpikir dan kemudian dikumpulkanlah semua prajurit Tarukan. Beliau meminta agar bila pasukan Dulang Mangap datang, prajurit Tarukan menyerah, tidak melawan, dengan cara membuang senjata dan duduk bersila di tanah dengan posisi kedua tangan memeluk tengkuk (leher bagian belakang). Beliau juga meminta agar permaisuri tetap tinggal di istana dan menyerah kepada Dalem Wayan. Betapa sedih dan pilu hati permaisuri tiada terperikan. Ingin beliau menyertai Dalem Tarukan pergi ke mana saja, tetapi itu tidak mungkin karena beliau sedang hamil besar.
Prajurit Tarukan juga tidak mau menyerah begitu saja. Mereka sangat mencintai Dalem Tarukan dan meminta diijinkan menghadapi pasukan Dulang Mangap sampai habis-habisan (perang puputan). Dalem Tarukan tidak mengijinkan. Beliau mengingatkan bahwa masalah ini adalah masalah pertikaian antar keluarga, yaitu beliau dengan kakak beliau, Dalem Wayan. Beliau tidak ingin karena pertikaian keluarga ini lalu rakyat yang menjadi korban sia-sia. Dengan berat hati beliau juga berpesan kepada permaisuri agar baik-baik menjaga putranya yang masih di kandungan.
Permaisuri tetap berlutut meratapi keputusan Dalem Tarukan. Dalem Tarukan berusaha menenangkan permaisuri dengan mengatakan bahwa kejadian ini sudah kehendak Dewata. Kita sebagai manusia tiada daya menolak kehendak Yang Maha Kuasa. Karena itu pasrahlah; serahkanlah hidup mati kita kepada-Nya. Setelah itu beliau segera berangkat seorang diri kearah utara.
Pasukan Dulang Mangap di bawah Panglimanya Kiyai Parembu dengan teriakan-teriakan histeris bagaikan serigala haus darah, tiba di Puri Tarukan. Mereka terheran-heran karena melihat semua pasukan dan rakyat Tarukan menyerah total tanpa perlawanan, bahkan duduk bersila dengan pandangan menunduk memandang tanah. Suatu aturan perang, seorang kesatria tidak akan membunuh pasukan yang sudah menyerah apalagi tanpa senjata.
Mereka masuk ke istana, memeriksa setiap sudut tetapi tidak menjumpai jejak Dalem Tarukan. Mereka hanya menemukan permaisuri beliau yang bersimpuh berurai air mata. Pasukan Dulang Mangap lalu menjarah isi Puri Tarukan dan membakar sampai habis Puri Tarukan. Para tawanan digiring ke Puri Samprangan. Kejadian yang memilukan ini terjadi pada tahun 1377 M atau 1299 isaka.
Kiyai Parembu menghadap Dalem Wayan di Puri Samprangan, dan melaporkan bahwa Dalem Tarukan telah melarikan diri ke arah utara. Segala hasil jarahan Puri Tarukan diserahkan, dan permaisuri Dalem Tarukan ditawan di Puri Samprangan. Dalem Wayan memerintahkan Kiyai Parembu untuk meneruskan pengejaran esok harinya. Kiyai Parembu menyiapkan pasukan bersenjata sebanyak 2000 orang.

2.1.1 Taro
Di desa ini beliau tidak lama, hanya lewat saja, kemudian karena dikejar terus oleh pasukan Dulang Mangap.

2.1.2 Tampuwagan
Di suatu tanah persawahan beliau melihat banyak orang sedang menanam padi. Ada seorang petani yang sedang membuang kotoran di sungai, dan bajunya ditinggalkan di tepi sungai. Baju itu lalu diambil oleh Dalem Tarukan, dikenakan, lalu beliau turut serta dengan para petani menanam padi. Seketika datanglah pasukan Dulang Mangap yang mengagetkan para petani.
Kiyai Parembu bertanya, apakah para petani melihat Dalem Tarukan di sekitar situ. Para petani serentak menjawab, tidak melihat siapa-siapa apalagi Dalem Tarukan. Pasukan Dulang Mangap memeriksa sekali lagi dan meneruskan pengejaran ke utara. Beberapa saat kemudian si petani yang selesai membuang kotoran itu bangkit dari sungai, mencari bajunya namun tidak ditemukan.
Dalem Tarukan berdiri sambil membuka penyamarannya. Seketika para petani terkesima karena baru kali itu mereka menatap sosok Dalem Tarukan yang tinggi besar, gagah perkasa, dengan raut wajah yang sangat tampan namun berwibawa. Kulit kehitaman dan rambut berombak yang panjangnya sebatas bahu menambah kewibawaan beliau. Para petani sujud menyembah serta mohon maaf karena tidak mengetahui kehadiran beliau di antara mereka.
Beliau, Dalem Tarukan menjelaskan secara singkat halangan yang menimpa, serta berpesan : “wahai kamu sekalian rakyat Tampuwagan, janganlah lagi kamu me-“cokor I Dewa” terhadapku. Kamu boleh menyapaku dengan “I Ratu, Gusti atau Jero”, karena aku akan tetap menyamar agar tidak diketahui keberadaanku di sini sehingga bebas dari pengejaran pasukan kakakku, Dalem Samprangan”.
Walaupun tidak rela, para petani itu serempak menyembah beliau dan merasa iba dengan nasib malang yang menimpa junjungan mereka itu.

2.1.3 Pantunan
Para pengejar yang mendapat informasi bahwa Dalem Tarukan ada di Desa Pantunan, segera ke sana. Beberapa saat sebelum kedatangan pasukan Dulang Mangap, Ide Bethara Dalem Tarukan telah diberi tahu oleh para petani di Pantunan. Beliau lalu bersembunyi di bawah pohon Jawa dan semak-semak pohon Jali yang tumbuh subur.
Ada sepasang burung perkutut hinggap di atas pohon Jawa tepat di atas persembunyian beliau seraya berkicau amat merdunya. Ada pula seekor burung puyuh berkeliaran dekat kaki beliau sambil berkicau. Para pengejar sudah berada dekat sekali ke pohon Jawa dan Jali tempat persembunyian beliau. Hampir saja mereka menguakkan semak-semak itu, namun tiba-tiba seorang pengejar mencegah. “Mana mungkin ada orang di situ, lihatlah burung-burung itu bertengger dan berkicau dengan tenang; jika ada manusia mereka sudah pasti terbang menghindar”
Pengejar yang lain membenarkan dan mereka meneruskan perjalanan. Terhindarlah Ide Bethara Dalem Tarukan dari penangkapan. Beliau lalu keluar dari semak-semak. Alangkah besar perlindungan Ide Sanghyang Parama Kawi. Seolah-olah semak-semak dan burung-burung itulah yang diminta oleh-Nya untuk melindungi beliau. Di saat itulah dengan terharu beliau berterima kasih kepada semak-semak dan burung-burung, sehingga terucaplah janji beliau agar seketurunan beliau tidak membunuh/merusak serta memakan Jawa, Jali, burung perkutut dan burung puyuh.

2.1.4 Poh Tegeh
Di desa Poh Tegeh (kini bernama Desa Suter) bermukimlah seorang kesatria bernama I Gusti Ngurah Poh Tegeh. Kesatria ini mempunyai nama/biseka lain yaitu I Gusti Ngurah Poh Landung, atau Kiyai Poh Tegeh, atau Kiyai Poh Landung, keturunan dari Sri Jayakata, Raja Tumapel (Jawa Timur) setelah wafatnya Sri Jayakatong. Datang ke Bali pada tahun 1350 M atau 1272 isaka mengemban tugas mengawal Ide Bethara Dalem Sri Kresna Kepakisan.
Sudah beberapa hari beliau mendengar berita bahwa Dalem Tarukan sedang berselisih dengan Dalem Wayan. Tiba-tiba di keremangan sinar bulan malam itu Kiyai Poh Tegeh terkejut menerima kedatangan Dalem Tarukan. Sang Kiyai segera menyambut dan bertanya meminta ketegasan, kenapa Dalem Tarukan datang mendadak, seorang diri tanpa pengiring.
Dalem Tarukan kemudian menjelaskan duduk persoalan selengkapnya dari awal hingga akhir. Kiyai mendengarkan dengan seksama, kemudian timbullah rasa ibanya. Kiyai memohon agar Dalem Tarukan tidak ke mana-mana lagi. Ia mempunyai suatu tempat yang dinamakan pedukuhan Bunga. Tempat itu dikitari hutan lebat dan jauh dari jalan yang biasa dilalui manusia. Dalem Tarukan menyetujui dan keesokan harinya beliau ke sana diiringi Kiyai Poh Landung.

2.1.5 Pedukuhan Bunga
Di Pedukuhan Bunga beliau disambut oleh Dukuh Bunga yang juga menyediakan pondoknya untuk ditinggali Dalem Tarukan. Dalem Tarukan sangat terharu atas kesetiaan dan keramahtamahan Kiyai Poh Landung dan Dukuh Bunga beserta keluarga dan seluruh rakyatnya.
Keberadaan beliau di pedukuhan dirahasiakan sehingga Dalem Tarukan menetap dalam waktu lama dengan tenang. Di sini beliau memperdalam ilmu kependetaan bersama-sama Dukuh Bunga. Di suatu hari Dalem Tarukan merasa sedih karena mengenang peristiwa hancurnya Puri Tarukan. Beliau belum tahu bagaimana nasib permaisuri yang ketika ditinggalkan sedang hamil tua. Lama beliau termenung. Hal ini diperhatikan oleh Kiyai Poh Landung.
Kiyai turut prihatin dan memikirkan bagaimana cara menghibur Dalem Tarukan. Kiyai menemukan jalan dan merencanakan menghaturkan putrinya yang bernama Ni Gusti Luh Puaji sebagai istri Dalem Tarukan. Beberapa hari kemudian Kiyai mengusulkan rencananya itu kepada Dalem Tarukan. Beliau menerima dengan baik usul Kiyai, dengan pertimbangan perlunya menurunkan “sentana” dan juga menghormati kesetiaan Kiyai Poh Landung. Pertimbangan yang sama pula disampaikan ketika para pengikut setia beliau di kemudian hari masing-masing menghaturkan putri mereka sebagai istri-istri Dalem Tarukan. Secara bertahap berkembanglah keluarga Ide Bethara Dalem Tarukan sebagai berikut :
NAMA MERTUA NAMA ISTRI NAMA PUTRA/PUTRI
Gusti Ngurah Poh Landung Gusti Luh Puaji Gusti Gede Sekar, Gusti Gede Pulasari
Dukuh Bunga Jero Sekar Gusti Gede Bandem
Dukuh Darmaji Jero Dangin Gusti Gede Dangin
Jero Mekel Belayu Jero Belayu Gusti Gede Belayu
Gusti Gede Bekung Gusti Luh Balangan Gusti Gede Balangan, Gusti Luh Wanagiri

Di pedukuhan Bunga beliau sekeluarga hidup aman, tenteram, dan berbahagia. Di waktu-waktu senggang beliau menanam berbagai macam kembang, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran. Dengan kelima istri dan ketujuh putra/putrinya beliau hidup rukun dan damai; bercengkrama, bersenda gurau, bermain-main di hutan dan mandi-mandi di sungai diselingi gelak tawa riang putri, si bungsu Gusti Luh Wanagiri.
Ide Sanghyang Parama Kawi yang maha kuasa, telah mengaruniai beliau putra-putra yang tampan, gagah dengan ciri-ciri khas wibawa kebangsawanan. Tak kalah dengan si mungil, putri beliau satu-satunya, tanda-tanda kecantikan yang masih tersembunyi menunggu saat menyembul di kemudian hari.
Hentikan dulu sejenak cerita di pedukuhan Bunga. Kini diceritakan keadaan Dalem Wayan di Puri Samprangan. Sudah sekian lama Kiyai Parembu mengejar Dalem Tarukan ke hutan-hutan dan desa-desa di pegunungan, tiada kabar berita, membuat Dalem Wayan resah. Dalam hati kecilnya beliau menyesal telah mengeluarkan perintah yang demikian kejam namun sebagai seorang Raja tidak mungkin beliau menarik kembali perintah itu.
Kini beliau mengharap semoga adik kandung beliau itu selamat dan untuk bisa selamat selamanya, diperkirakan Dalem Tarukan telah berhasil menyeberang ke Jawa, jika benar maka jalan yang terbaik adalah melalui Desa Kubutambahan di bekas kerajaan Dalem Kesari Marwadewa yaitu di Pura Penyusuan.
Rasa kesepian karena tiada saudara sekandung, perasaan bersalah yang terus menghantui, serta siasat dari para Menteri yang tiada hentinya, membuat Dalem Wayan tidak bergairah memimpin pemerintahan Kerajaan Samprangan. Perasaan bersalah Dalem Wayan makin menjadi-jadi setelah istri Dalem Tarukan yaitu bidadari dari Lempuyang moksah ketika putra yang dilahirkannya genap berusia 42 hari. Bayi mungil ini dinamai I Dewa Bagus Dharma. Berhari-hari Dalem Wayan di peraduan saja, tidak beda seperti orang yang sedang sakit. Para menteri dan petinggi kerajaan yang ingin menghadap tidak berhasil menemui beliau, sehingga lama kelamaan roda pemerintahan tidak berjalan sebagaimana mestinya.
Keadaan ini mengkhawatirkan beberapa menteri karena dapat membahayakan kelangsungan berdirinya kerajaan Samprangan, apalagi kaum pemberontak dari kalangan Bali Aga masih terus berusaha menggulingkan kerajaan. Seorang menteri bernama Kiyai Kebon Tubuh mengambil inisiatif berangkat ke desa Pandak (Tabanan) menjemput Dalem Ketut Ngulesir untuk memohon beliau bersedia menjadi Raja.
Kiyai berhasil menemui Dalem Ketut di arena sabungan ayam sedang berwajah lesu karena baru saja kalah bertaruh. Kiyai melaporkan secara singkat keadaan Dalem Wayan di Puri Samprangan dan peristiwa menyedihkan yang terjadi di Puri Tarukan.
Sejenak Dalem Ketut termenung membayangkan betapa tragisnya nasib beliau tiga bersaudara. Kiyai melanjutkan permohonannya agar Dalem Ketut sudi pulang ke Samprangan untuk memimpin kerajaan Bali Dwipa. Walaupun Dalem Ketut sudah lama meninggalkan Samprangan, beliau selalu memantau apa yang terjadi di Puri Samprangan. Permintaan Kiyai Kebon Tubuh itu memang patut dipertimbangkan demi menjaga kelangsungan roda pemerintahan, namun bagaimana nanti dengan kedudukan Dalem Wayan ?
Pemikiran Dalem Ketut itu nampaknya terbaca oleh Kiyai Kebon Tubuh. Segera ia menawarkan agar Dalem Ketut memerintah dari Gelgel, bukan dari Samprangan. Dengan kata lain kerajaan seolah-olah sudah dipindahkan ke Gelgel. Tawaran ini disetujui Dalem Ketut dan segeralah beliau berangkat ke Gelgel (tahun 1380 M atau 1302 isaka).
Dalem Ketut Ngulesir membangun istana di Gelgel di kebun kelapa milik Kiyai Kebon Tubuh. Berita ini didengar oleh Dalem Wayan namun tidak bereaksi karena beliau sudah kehilangan gairah hidup. Para menteri dan pembantu Raja di Samprangan banyak yang berpindah ke Gelgel atas kemauan sendiri karena merasa lebih senang mengabdi kepada Dalem Ketut. Roda pemerintahan diatur dari Gelgel yang telah berganti nama menjadi Suwecapura. Para Manca yang tinggal di pedesaan dan pegunungan mendengar berita ini lalu datang menyatakan dukungan dan kesetiaan kepada Dalem Ketut.
Sementara itu Dalem Wayan makin parah sakitnya dan akhirnya beliau moksah pada tahun 1383 M atau 1305 isaka. Setelah Dalem Wayan moksah barulah Dalem Ketut menyelenggarakan upacara penobatan Raja (biseka Ratu) dengan gelar Ide Bethara Dalem Semara Kepakisan. Segera setelah Dalem Ketut resmi menjadi Raja, beliau teringat pada kakak beliau, Dalem Tarukan. Diutuslah Kiyai Kebon Tubuh ke pedukuhan Bunga untuk meminta Dalem Tarukan kembali ke Tarukan atau ke Suwecapura.
Permintaan ini ditolak beliau karena beberapa pertimbangan antara lain : jika kembali ke Tarukan, istana ini sudah hancur dan akan mengingatkan kenangan pahit yang dialami beberapa tahun lampau. Istri beliau yang dicintai yaitu bidadari Lempuyang-pun (dijuluki : Dedari Kuning) telah moksah. Jika ke Suwecapura, walaupun adik beliau Dalem Ketut mau menerima, belum tentu para menteri dan petinggi kerajaan lain mau juga menerima dengan baik; sementara itu beliau sudah berbahagia di pedukuhan Bunga.
Kiyai Kebon Tubuh kembali ke Suwecapura dan melaporkan penolakan Dalem Tarukan tersebut. Dalem Ketut kecewa karena maksud baik beliau tidak ditanggapi oleh Dalem Tarukan, namun beliau dapat memahami pemikiran kakak beliau itu. Dalem Tarukan yang menduga bahwa para menteri di Suwecapura dan para pengejar dari Samprangan telah mengetahui tempat persembunyian beliau, lalu memutuskan untuk meninggalkan pedukuhan Bunga.

2.1.6 Sukawana
Dalam perjalanan yang melelahkan ini putri beliau yang berusia 4 tahun, Gusti Luh Wanagiri menangis karena lapar. Dalem Tarukan lalu bertanya kepada Dukuh Darmaji apakah membawa makanan. Dukuh menjawab, tidak membawa makanan, hanya beberapa genggam beras. Dalem Tarukan lalu tergesa-gesa memberikan beras itu kepada putrinya, karena tidak sempat lagi memasaknya. Beberapa saat kemudian putrinya sakit perut karena memakan beras mentah dan akhirnya tidak tertolong.
Putri yang dicintainya meninggal dunia. Betapa sedih beliau dan terucaplah kata-kata beliau : “Ya, Tuhan betapa besar cobaan yang kami terima, sangat besarlah penyesalan kami karena seolah-olah memberi jalan kematian putriku. Nah agar hal ini tidak terulang lagi, wahai semua putra dan semua keturunanku, kelak di kemudian hari janganlah sekali-kali kalian memakan beras mentah”
Setelah itu Dalem Tarukan lalu meminta Ki Pasek Sikawan mengubur jenazah putrinya. Karena letak desa Sukawana di sebelah timur bukit Penulisan, maka agar prabu layon berada di “hulu” dikuburlah jenazah putrinya dengan kepala di arah barat. Di saat ini terucaplah bisama beliau agar seketurunan beliau bila meninggal atau di-aben agar kepala berada di arah barat, sebagai tanda ingat akan peristiwa menyedihkan ini.

2.1.7 Carucut
Perjalanan menelusuri pantai; tiba di suatu tempat yang indah beliau berhenti sejenak. Sudah sekian jauh beliau berjalan baru di situlah merasa lega dan firasat beliau mengatakan bahwa tempat ini aman dari kejaran pasukan Dulang Mangap. Beliau lalu membicarakan rencana untuk menetap di situ. Semua pengikut beliau : Dukuh Darmaji, Ki Pasek Ban, Ki Pasek Sikawan, Ki Pasek Jatituhu, Ki Pasek Penek, Ki Pasek Daya, Ki Pasek Temangkung, dan Ki Pasek Sukawana setuju.
Di situlah beliau membuka perkebunan kelapa dan tanaman palawija, dibantu oleh ratusan rakyat pegunungan yang setia kepada Dalem Tarukan. Lama-kelamaan makin banyak rakyat dan pemekel dari pulau Bali pesisir utara yang berdatangan menghaturkan sembah sujud kehadapan beliau dan tetap menjunjung beliau sebagai Dalem. Dalem Tarukan lalu bersabda : “kamu semua rakyat pegunungan dan pesisir, aku menerima penghormatan dan kesetiaanmu, tetapi janganlah kamu me-“cokor I Dewa” kepadaku, karena kini aku bukanlah seorang Dalem lagi”
Walaupun demikian, rakyat tetap saja menghormati beliau dengan hatur : cokor I Dewa” karena tak seorangpun berani merubah kebiasaan sebutan. Terkenallah beliau sampai ke perbatasan di arah barat : Desa Tejakula, di arah selatan : Desa Poh Tegeh, di arah Timur Desa Ban, (arah utara : Laut Bali).
Berkat asung kerta nugraha Ide Sanghyang Parama Kawi, hasil perkebunan beliau melimpah, sehingga lama kelamaan keluarga dan pengiring beliau kaya raya dan selalu bersuka ria. Maka tempat itu dinamakan Sukadana.

2.1.8 Sukadana
Ide Bethara Dalem Tarukan sekeluarga beserta para pengiringnya menikmati kebahagiaan hidup di Sukadana. Namun di suatu saat beliau terkenang akan putri beliau yaitu Gusti Luh Wanagiri yang meninggal dan dikuburkan di Sukawana. Atas usul para pengikutnya yaitu Ki Pasek Jatituhu, Ki Pasek Bunga, Ki Pasek Darmaji, Ki Pasek Ban, Ki Pasek Daya, Ki Pasek Penek, Ki Pasek Temakung, Ki Pasek Sikawan, Dukuh Bunga, Dukuh Jatituhu, dan Dukuh Pantunan, dilaksanakanlah pelebon putri beliau secara megah dan besar-besaran.
Lokasi upacara dipilih di Bukit Mangun; pada saat pembakaran, prabu layon mengarah ke barat. Pemuput upacara adalah : Dukuh Bunga, Dukuh Pantunan, dan Dukuh Jatituhu. Abu jenazah dipendem di Bukit Mangun. Selesai upacara pelebon, mereka kembali pulang ke Sukadana.

2.1.9 Poh Tegeh
Betapa gembiranya I Gusti Ngurah Poh Tegeh menyambut kedatangan Ide Bethara Dalem Tarukan setelah sekian lama berpisah. Rombongan besar itu dijamu secara meriah. Tiba-tiba timbul keinginan Ide Bethara Dalem Tarukan untuk meneruskan perjalanan ke selatan karena seperti ada firasat bahwa kemungkinan putra beliau yang beribu dedari Lempuyang masih hidup dan kini berada entah di mana.
Hal itu disampaikan kepada Kiyai Poh Tegeh. Mula-mula Kiyai mencegah rencana beliau itu; namun melihat beliau sangat bersemangat, Kiyai mendukung serta memohon agar Dalem Tarukan sangat berhati-hati di perjalanan.

2.1.10 Sidaparna
Di desa ini beliau bertemu dengan beberapa penduduk yang memberikan informasi bahwa Dalem Ketut yang menggantikan Dalem Wayan, memerintah di Gelgel secara bijaksana dan semuanya berjalan sangat baik. Dalem Ketut tidak pernah lagi menanyakan keberadaan Dalem Tarukan. Demikian pula para prajurit Samprangan yang dahulu mengejar Dalem Tarukan tidak terdengar lagi kabar beritanya.

2.1.11gunung Penida
Di suatu dataran tinggi Dalem Tarukan berhenti. Tempat itu sangat indah karena diapit oleh dua buah sungai yang sangat jernih airnya. Dikelilingi oleh hutan yang penuh dengan aneka satwa, ada tanah datar yang luas, cocok untuk persawahan. Lama beliau termenung menikmati keindahan pemandangan alami itu. Beliau berpikir, inilah tempat yang sangat sesuai untuk tempat menetap. Jika meneruskan perjalanan, belum juga tentu ke mana arahnya; di samping itu anggota rombongan beliau sudah lelah tinggal berpindah-pindah.
Akhirnya beliau memutuskan menetap di daerah itu. Di sini beliau membangun pondok-pondok, membuka sawah-ladang, serta menanam padi, sayur-sayuran, kacang-kacangan, dan berbagai macam bunga. Tempat itu oleh penduduk dinamakan Pulasari atau Pulasantun.
Kemudian Ide Bethara Dalem Tarukan menekuni Dharma Kepanditaan yang menjadi keinginan beliau sejak berada di Tarukan. Keinginan ini seperti mendarah daging karena leluhur beliau di Majapahit adalah Brahmana, abiseka Danghyang Kepakisan. Kegiatan kepanditaan di Pulasari berkembang pesat karena didukung oleh para Dukuh sekitarnya, misalnya Dukuh Bunga, Dukuh Pantunan, Dukuh Darmaji, dan lain-lain. Di sela-sela waktu pemujaan, Ide Bethara Dalem Tarukan tetap bekerja di kebun atau di sawah sebagai selingan dan kesenangan.
Hentikan dulu sejenak, kini diceritakan keadaan putra Ide Bethara Dalem Tarukan bernama Dewa Bagus Dharma yang tinggal di Puri Samprangan. Sejak berusia 42 hari beliau ditinggal ibunda, moksah ke kahyangan. Di saat membutuhkan air susu, datanglah seekor manjangan putih menyusui beliau dan kemudian menghilang setelah sang bayi tertidur lelap. Keadaan ini mengherankan seisi Puri, sehingga yakinlah mereka bahwa sang bayi benar-benar putra seorang bidadari kahyangan. Ada seorang emban (pembantu) yang sangat setia merawat sang bayi.
Setelah meningkat usia remaja, Dewa Bagus Dharma bertanya kepada si-emban, siapa ayah dan ibu beliau. Si-emban dengan berlinang air mata menceritrakan riwayat Ide Bethara Dalem Tarukan. Sejenak beliau tercenung lalu berucap bahwa ingin menemui ayahanda beliau. Si-emban dengan berbisik memberitahu : “pergilah I Dewa ke arah pegunungan di utara; jika bertemu seorang laki-laki tegap, tampan, tinggi, berkulit hitam, rambut panjang berombak, tanpa baju, berkain hitam dengan saput poleng tanpa ujung (seperti kain sarung), itulah ayahanda I Dewa”
Tidak menunggu waktu lagi, Dewa Bagus Dharma segera mengambil keris, lalu berangkat ke arah utara. Tekad beliau sudah mantap; kerinduan bertahun-tahun, haus kasih sayang, dan “jengah” mendorong beliau segera ingin bertemu dan tinggal bersama ayahanda baik dalam keadaan suka maupun duka. Berhari-hari beliau berjalan sambil memperhatikan orang-orang yang ditemuinya. Tidak satu pun mirip dengan apa yang diceritakan si-emban. Beliau tidak bertanya kepada siapa pun, karena perjalanan ini dirahasiakan.
Suatu siang yang panas, tibalah Dewa Bagus Dharma di suatu persawahan yang luas. Hanya ada satu orang di situ sedang asyik membajak sawah. Beliau duduk dan kaget melihat orang itu sesuai benar dengan ciri-ciri yang dikatakan si-emban. Hanya saja orang ini petani; ayahanda yang dicari adalah seorang Raja. Tidak mungkin seorang Raja membajak sawah. Sedang berpikir-pikir demikian, tiba-tiba sapi si-“petani” panik lalu lari tunggang langgang. Peralatan bajak yang ditariknya patah tidak karuan karena sapi-sapi itu mengamuk ingin melepaskan diri.
Si “petani” heran, kenapa sapinya tiba-tiba menjadi liar tak terkendali. Pasti ada sesuatu sebab yang membuat sapinya ketakutan, misalnya harimau. Namun tidak ada harimau di sekitar itu. Yang ada hanya seorang lelaki remaja dengan sorot mata polos memandang kegaduhan sapi itu. Si-“petani” yang tiada lain Ide Bethara Dalem Tarukan, menjadi marah karena mengetahui penyebab sapinya liar adalah silaki-laki itu. Beliau mendekati remaja itu lalu menghardik : “eh, apa kerjamu di sini, mengganggu saya serta mengacaukan sapi-sapi saya”
Sang remaja yang disapa dengan keras itu juga marah, sehingga timbul percekcokan. Kemarahan makin menjadi-jadi akhirnya sama-sama menghunus keris berkelahi dengan sengit, saling pukul, saling tikam, saling cekik, saling tindih, berjam-jam lamanya tidak ada yang terluka, sampai kehabisan tenaga, sama-sama duduk bersebelahan. Dalem Tarukan heran karena remaja ini kebal tubuhnya, ditikam tidak tergores apalagi luka. Beliau lalu bertanya :”hai anak muda, siapa sebenarnya anda, dari mana, mau ke mana dan apa kerjamu di tengah hutan ini seorang diri” Dewa Bagus Dharma lalu menjawab :”saya bernama Dewa Bagus Dharma, dari Puri Samprangan, tiba di hutan ini hendak mencari ayah saya bernama Ide Dalem Tarukan, yang menurut informasi tinggal di sekitar daerah ini”
Mendengar itu, Ide Bethara Dalem Tarukan terkejut bagaikan disambar petir. Dipandangnya wajah pemuda itu; ya Tuhan, Sanghyang Parama Kawi, wajahnya bagaikan pinang dibelah dua dengan anakku I Sekar. Beliau tak kuasa membendung air mata haru; dipeluknya pemuda itu seraya mengusap kepalanya : “anakku Dewa Bagus Dharma, Ide Sanghyang Parama Kawi maha agung dan maha pemurah, hari ini aku dipertemukan dengan anak kandungku yang bertahun-tahun aku rindukan; nanak, ini ayahmu yang kamu cari itu”
Sampai di situ Ide Bethara Dalem Tarukan tidak lagi berkata-kata; rongga dada beliau sudah penuh sesak dengan keharuan tiada tara. Tak berbeda dengan Dewa Bagus Dharma, tak kuasa beliau mengucapkan kata-kata; hanya perkataan :”aji, aji, aji” seraya mengeratkan pelukannya sambil bersimbah air mata.
Lama kedua insan itu saling melepas kerinduan dan kehangatan ayah-anak sambil menceritrakan riwayat masing-masing. Beberapa saat kemudian datanglah putra-putra Ide Bethara Dalem Tarukan yaitu Gusti Gede Sekar dan Gusti Gede Pulasari bermaksud menjemput ayahanda beliau pulang ke pedukuhan. Ide Bethara Dalem Tarukan dengan gembira mempertemukan ketiga saudara kandung buah hatinya itu. Mereka lalu pulang ke pedukuhan Pulasari dengan suka cita.
Gemparlah pedukuhan Pulasari atas kedatangan penghuni baru yang tampan seperti kembarannya Gusti Gede Sekar, namun usianya sedikit lebih dewasa. Malam hari pertemuan itu dirayakan dengan meriah, makan, minum, menari dan menyanyi. Ketujuh bersaudara lelaki, putra-putra Ide Bethara Dalem Tarukan asyik berbincang sampai larut malam. Akhirnya kantuk membawa mereka ke alam mimpi yang indah. Dewa Bagus Dharma sudah sejak awal memutuskan tinggal menetap bersama-sama ayah, para ibu dan saudara-saudaranya di Pulasari.
Kini dilanjutkan dahulu kisah tentang Kiyai Parembu. Kiyai dengan gigih mentaati perintah Dalem Wayan mengejar Dalem Tarukan ke hutan-hutan pegunungan sebelah utara. Disertai putranya bernama Kiyai Wayahan Kutawaringin, pasukan Dulang Mangap menyelusup menyelidiki dan mencari persembunyian Dalem Tarukan, namun tidak pernah berhasil. Kadangkala ada yang memberikan informasi lokasi persembunyian beliau, tetapi ternyata informasinya menyesatkan.
Arah pencarian Kiyai menuju gunung Tulukbiyu, lalu bertemu dengan Jero Dukuh Sekar. Ketika ditanya, Jero Dukuh berlaku pikun serta memberi jawaban sekenanya. Dengan perasaan kesal dan putus asa Kiyai meneruskan pencariannya tanpa arah yang jelas. Tiba di suatu tempat Kiyai duduk di bawah pohon tua yang rindang. Perasaan Kiyai tidak menentu : kesal, malu, merasa tak berharga karena tidak dapat menunaikan tugas, walaupun sudah diupayakan dengan sekuat tenaga.
Pasukan Dulang Mangap terpecah dua; sebagian besar sudah kembali ke Gelgel karena mendengar Dalem Ketut sudah bertahta di Gelgel. Kini pasukannya bersisa empat puluh orang. Hanya itulah yang masih setia mengikuti, namun sudah ada tanda-tanda mereka jemu dan kepayahan. Kiyai merenung dan timbul pikirannya yang terang. Ditanyaillah dirinya sendiri, apa sebenarnya manfaat tugas yang diembannya bagi kerajaan. Bukankah perintah Dalem Wayan hanya sebuah perintah emosional yang menuruti kemarahan sesaat ? Di samping itu berita yang didengar, seolah-olah Dalem Wayan sudah digeser kedudukannya oleh Dalem Ketut. Lalu untuk siapa kini ia mengabdi ? Tetapi jika melalaikan tugas bukankah ia sudah banyak berhutang budi kepada Dalem Wayan ? Kebingungan pikiran Kiyai rupanya diketahui oleh putra dan para pengikutnya.
Seorang pembantunya memberanikan diri menyampaikan pendapat sebagai berikut : “ya, paduka Gusti, hamba mengerti bahwa hati tuan kecewa karena tidak berhasil mencari Dalem Tarukan. Namun jika tuan berkenan, hamba menghaturkan pendapat bahwa Ida Sanghyang Widhi Wasa telah melindungi Ide Bethara Dalem Tarukan sehingga beliau terhindar dari mara bahaya. Hidup dan mati semuanya ada di tangan-Nya; jika belum diperkenankan, apapun upaya manusia untuk membunuh sesama manusia tidak akan terlaksana. Oleh karena itu janganlah paduka menyesali diri terlampau berkepanjangan. Sebaiknya putuskanlah apa yang akan kita lakukan sekarang”
Mendengar ucapan pembantunya demikian, mantaplah hati Kiyai Parembu; segera ia bangkit berdiri seraya berkata :”Hai kamu sekalian, memang benar seperti apa yang dikatakan temanmu ini; tidak ada yang dapat melawan kehendak Ide Sanghyang Widhi, hanya Beliau yang kuasa mengatur soal hidup atau mati. Perasaan kita saat ini sama, yaitu rasa malu yang menusuk hati karena tidak dapat menyelesaikan tugas. Karenanya aku telah memutuskan tidak kembali ke Gelgel. Kita menetap di sini saja membuka lembaran sejarah baru; siapa yang setuju boleh mengikuti saya; yang tidak setuju silahkan kembali ke Gelgel” Para pengikutnya serempak menjawab setuju. Tidak seorangpun berniat kembali ke Gelgel. Dengan riang gembira mereka bersama-sama membangun pedesaan kecil, membuka sawah ladang dan hidup sebagai petani. Desa itu dinamakan Bugbug Tegeh.
Adanya desa baru cepat tersiar ke desa-desa sekitarnya. Kiyai Poh Tegeh lalu mengirim utusan mengundang Kiyai Parembu. Kiyai Parembu merasa khawatir, karena tahu bahwa Kiyai Poh Tegeh memihak Dalem Tarukan. Semalam suntuk Kiyai Parembu berunding dengan putranya, Kiyai Wayahan Kutawaringin apakah akan memenuhi undangan itu atau menolak. Hingga larut malam belum ada keputusan, sampai keduanya tertidur kelelahan. Kiyai Wayahan Kutawaringin bermimpi ditemui seorang bidadari yang cantik jelita, bahkan bercengkrama mesra di sebuah taman yang indah.
Keesokan hari mimpi itu diceritrakannya kepada sang ayah. “Wah itu pertanda baik, mari kita segera berangkat ke Poh Tegeh” Menjelang sore mereka berdua tiba di Poh Tegeh, disambut dengan ramah oleh seorang gadis cantik yang kebetulan melintas di depan pemedal. Bagaikan dipukul palu godam detak jantung Kiyai Wayahan Waringin memandang kecantikan gadis itu. Bagaimana mungkin, bidadari yang diimpikan semalam berwujud persis dia.
Sedang terkesima demikian tiba-tiba tegur sapa Kiyai Poh Tegeh menyadarkan Kiyai Wayahan Kutawaringin. “Adinda Kiyai Parembu, betapa bahagianya kakanda hari ini karena dinda bersedia memenuhi undangan” Kiyai Parembu menjawab : ”ya kakanda, maafkanlah dinda karena baru kali ini dapat berjumpa; dinda merasa seperti manusia yang tidak berharga dan tak berguna sehingga kelahiran dinda sia-sia belaka. Dinda tidak dapat mengemban tugas sebagai seorang kesatria sejati. Seharusnya dinda bunuh diri saja karena tiada tahan menanggung malu”
Wajah Kiyai Parembu sedih memelas; cepat Kiyai Poh Tegeh menjawab :” dinda, Kiyai Parembu, tidak seorang pun akan menyalahkan serta merendahkan dinda, karena Ide Bethara Dalem Tarukan dilindungi Sanghyang Widhi. Sadarlah dinda, beliau berdua kakak beradik bertikai karena diadu domba oleh pihak lain. Janganlah dinda turut memihak dalam pertikaian itu karena tidak direstui Yang Maha Kuasa. Sebagai seorang kesatria, ingatlah selalu riwayat leluhur kita yaitu Sri Jayakata dan Sri Jayawaringin ketika dilarikan ke Tumapel setelah gugurnya Sri Jayakatong. Bukankah leluhur Ide Bethara Sri Kresna Kepakisan yang menyelamatkan leluhur kita ? Dan kedatangan leluhur kita ke Bali-pun mengiringi Dalem Sri Kresna Kepakisan.
Jadi kita harus tetap berbakti kepada sentanan Dalem Sri Kresna Kepakisan, dalam hal ini baik Dalem Wayan maupun Dalem Tarukan sama-sama kita hormati. Kini keadaan berubah; Dalem Ketut sudah memimpin kerajaan. Oleh karena itu untuk apa dinda masih terus memburu Dalem Tarukan ? Keputusan dinda untuk menetap di Bugbug Tegeh kanda hargai sebagai suatu keputusan yang bijaksana”
Mendengar wejangan Kiyai Poh Tegeh seperti itu legalah perasaan Kiyai Parembu. Mereka lalu bersantap malam dan berbincang-bincang dengan gembira sampai larut malam. Tiba waktunya tidur, Kiyai Parembu bersama putranya disilahkan menempati ruangan yang telah disediakan. Sekali lagi Kiyai Wayahan Kutawaringin bertemu pandang dengan gadis yang sore tadi. Goyah rasanya lutut beliau karena tak kuasa menahan dentuman api asmara yang melesat dari kerlingan si gadis.
Kiyai Poh Tegeh segera mengenalkan gadis itu kepada Kiyai Wayahan Kutawaringin seraya berkata : “nanak Winihayu Luh Toya, ini masih saudara sepupumu bernama Kiyai Wayahan Kutawaringin. Ini ayahnya bernama Kiyai Parembu” Si gadis mengangguk manja terus menghilang di balik pintu. Malam itu Kiyai Wayahan tidur gelisah sampai ayam berkokok menjagakannya. Setelah berpamitan berangkatlah kedua si ayah dan anak itu pulang ke Bugbug Tegeh. Di perjalanan, Kiyai Wayahan tiada henti-hentinya berbisik di hati : “dinda Winihayu apakah dinda merasakan apa yang terpendam di hatiku” Hingga beberapa hari setibanya di Bugbug Tegeh, Kiyai Wayahan terus saja terkenang pada Winihayu. Hal ini diketahui oleh ayahnya.
Singkat cerita lama kelamaan diketahui bahwa Winihayu sama-sama jatuh cinta juga kepada Kiyai Wayahan. Kedua orang tua-tua lalu berunding, akhirnya terjadilah pernikahan Kiyai Wayahan Kutawaringin dengan Winihayu Luh Toya. Dari perkawinan ini lahir dua orang putra yaitu : Kiyai Panida Waringin, meninggal dunia pada usia muda, dan Kiyai Tabehan Waringin yang kelak di kemudian hari melanjutkan keturunan warga Arya Kutawaringin. Pernikahan antara Kiyai Wayahan Kutawaringin dengan Winihayu Luh Toya menyebabkan Kiyai Wayahan ber-ipar dengan Dalem Tarukan, karena sama-sama menikahi putri-putri Kiyai Poh Tegeh.
Karena hubungan kekeluargaan inilah menambah “kemalasan” Kiyai Parembu untuk mengejar Dalem Tarukan. Patutlah dipuji strategi Kiyai Poh Tegeh yang selalu berupaya menyelamatkan Dalem Tarukan.
Kembali diceritakan keadaan beliau, Ide Bethara Dalem Tarukan di desa Pulasari. Tidak ada lagi pasukan yang mengejar-ngejar beliau, sehingga kehidupan beliau aman tentram. Beliau meningkatkan ilmu kepanditaan, sampai akhirnya mampu menjadi nabe bagi para dukuh yang setia mengikuti beliau yaitu : Dukuh Bunga, Dukuh Pantunan, Dukuh Jatituhu, Dukuh Darmaji, Ki Pasek Bunga, Ki Pasek Daya, Ki Pasek Jatituhu, Ki Pasek Pemuteran, Ki Pasek Ban, Ki Pasek Penek, dan Ki Pasek Sikawan.
Kepada para putranya beliau memberikan bisama sebagai berikut : “Putra-putraku, dengarkanlah bisama yang aku berikan kepadamu dan segenap keturunanmu kelak di kemudian hari : Jika kamu meninggal dunia dan diupacarai ngaben (pelebon), dibenarkan kalian menggunakan busana sesuai dengan tata-cara sebagai seorang Raja beserta dengan segala upacaranya, paling kecil menggunakan pemereman berupa padma terawang, atau bade bertumpang tujuh, menggunakan banusa dengan galar dari bambu kuning, tumpang salu dari bambu kuning, ma-ulon, ma-jempana, kajang Pulasari, daun pisang kaikik, bale gumi berundak tujuh, bale silunglung, damar kurung, serta upacara ngaskara selengkapnya.
Selain itu janganlah menerima panggilan “cai”, tetapi terimalah panggilan : Jero, Gusti dan Ratu. Bisama ini aku berikan kepadamu karena kamu adalah keturunanku, keturunan Dalem” Pemberian bisama itu disaksikan oleh para Dukuh dan para Pasek yang disebutkan di atas. Mereka menyatakan akan selalu mentaati dan menjaga terlaksananya bisama itu. Tiada berapa lama setelah memberikan bisama, Ide Bethara Dalem Tarukan sakit selama tiga bulan lalu meninggal dunia pada hari Kamis Kliwon, wara Ukir, panglong ping pitu, sasih kedasa, isaka 1321 atau bila dengan kalender Masehi, pada hari Kamis, bulan April tahun 1399 M. Jika diperkirakan beliau lahir pada tahun 1352 M (dua tahun setelah ayahanda : Dalem Sri Kresna Kepakisan menjadi Raja Samprangan) maka Ide Bethara Dalem Tarukan meninggal dunia pada usia 47 tahun.
Upacara pelebon Ide Bethara Dalem Tarukan dilaksanakan di setra Tampuwagan pada hari Sabtu, Pahing, wuku Warigadean, panglong ping pitu, sasih Jiyesta, rah tunggal, tenggek kalih, isaka 1321, atau bila dengan kalender Masehi, pada hari Sabtu, bulan Juni tahun 1399 M. Manggala dan pemuput karya upacara pelebon adalah : Dukuh Bunga, Dukuh Pantunan, Dukuh Jatituhu, Kiyai Poh Tegeh, Ki Pasek Pemuteran, Ki Pasek Penek, Ki Pasek Temangkung, Ki Pasek Ban, Ki Pasek Sikawan, Ki Pasek Bunga, Ki Pasek Jatituhu, dan I Gusti Ngurah Kubakal.
Tata laksana pelebon sebagai Raja, yaitu : pemereman bade tumpang pitu, petulangan lembu nandaka ireng ditempatkan dengan kepala di arah Barat, tirta pemuput dari Besakih, sulut pembakaran memakai keloping nyuh gading, kayu bakar memakai kayu cendana. Setelah itu abu tulang dihanyutkan di sungai Congkang. Sebulan kemudian diadakan upacara meligia di mana abu “sekah” dipendem di cungkup sebuah Pura yang dibangun sebagai Pedarman Ide Bethara Dalem Tarukan. Berhubung sudah disucikan sebagai Bethara Raja Dewata, maka sejak saat meligia itu beliau amari aran (berganti gelar) menjadi : Ide Bethara Dalem Tampuwagan Mutering Jagat.
Selama berlangsungnya upacara pelebon dan meligia, tiada henti-hentinya seluruh rakyat pegunungan mulai dari perbatasan barat : Bondalem (Buleleng), perbatasan timur : Tianyar (Karangasem), perbatasan selatan : Pantunan (Bangli) menghaturkan uang kepeng bolong dan bahan-bahan “lebeng-matah” sebagai tanda bakti, setia, hormat, dan duka cita karena ditinggalkan junjungan mereka. Aturan berupa makanan langsung disantap oleh para putra, para Ibu, keluarga, serta semua yang hadir. Karena terlalu banyak sampai tidak habis dimakan, dibiarkan membusuk sehingga menimbulkan bau tidak sedap.
Setelah semua rangkaian upacara selesai, bau busuk dari sisa-sia makanan, beras, uang kepeng bolong dan lain-lain makin menjadi-jadi, tidak tahan menciumnya. Para putra lalu memerintahkan rakyatnya membuang ke sungai, sampai air sungai itu berubah seperti bubur. Uang kepeng bolong yang dihanyutkan menyangkut menutupi sumber mata air sungai. Rakyat yang tinggal di hilir terheran-heran melihat air sungai berubah seperti bubur; banyak yang mengambil nasi, tumpeng, beras itu untuk diberi makan anjing atau babi.
Di sungai lainnya rakyat menemukan uang kepeng bolong yang sudah bergumpal-gumpal berkarat tidak bisa digunakan lagi. Ide Bethara di sorga loka melihat dengan sedih kejadian itu. Turunlah kutukan beliau sebagai berikut : “Wahai para putraku, kalian telah menyia-nyiakan anugerah dewata; maka kini terimalah kutukanku, mudah-mudahan kalian seketurunan tidak akan menjadi kaya atau berkecukupan. Bila ada yang bisa kaya, umurnya pendek lalu kematian menjemput sehingga keturunannya menjadi miskin kembali” Para putra yang mendengar kutukan itu kebingungan dan menyesali perbuatannya, namun apa hendak dikata karena itulah kehendak Ide Sanghyang Widhi Wasa. Dengan perasaan tak menentu para putra kembali ke pedukuhan Pulasari memulai hidup baru.
Aliran sungai yang berlimpah bubur dan uang kepeng bolong itu menuju ke Kerajaan Suwecapura. Rakyat gempar berhari-hari, lalu menamakan kedua sungai itu masing-masing : Tukad Bubuh dan Tukad Jinah. Berita ini sampai ke istana Dalem Ketut (Dalem Sri Semara Kepakisan). Tahulah beliau bahwa kakak beliau telah meninggal dunia dan di pelebon di pegunungan. Sedih hati beliau mengenang nasib Ide Bethara Raja Dewata yang sebahagian besar hidupnya dihabiskan di pengungsian. Beliau Dalem Ketut ingin memelihara putra-putra Ide Bethara Raja Dewata yang jelas masih kemenakannya sendiri.
Keesokan harinya dipanggillah Kiyai Kebon Tubuh lalu ditugaskan menjemput para kemenakan beliau itu ke hutan-hutan di pegunungan untuk diajak ke Gelgel. Disertai pengikut 50 orang, berangkatlah Kiyai Kebon Tubuh menuju utara. Setelah menempuh perjalanan berhari-hari, sampailah Kiyai di pedukuhan Pulasari. Kiyai berdatang sembah kepada para putra : “Mohon ampun, paduka para putra Dalem, hamba diutus oleh Paman paduka, Sri Aji Semara Kepakisan untuk menjemput paduka sekalian diajak pulang ke istana Suwecapura”
Para putra yang dipimpin oleh putra tertua : Dewa Bagus Dharma ragu-ragu pada kebenaran maksud baik dari ucapan sang Kiyai. Bertahun-tahun para putra menghadapi kenyataan bahwa ayahanda beliau dimusuhi oleh saudara sekandung beserta menteri dan rakyat kerajaan, kini tiba-tiba ada utusan yang bernada membujuk menjanjikan kebaikan budi. Bukankah ini suatu perangkap untuk mencelakakan para putra sehingga jika dapat, agar musnahlah keturunan Ide Bethara Raja Dewata.
Berpikir demikian, Dewa Bagus Dharma kemudian menolak permintaan sang Kiyai seraya menyatakan bahwa beliau beserta adik-adik tidak akan meninggalkan pedukuhan Pulasari. Kiyai Kebon Tubuh tidak berhasil membujuk para putra, lalu kembali ke istana Suwecapura. Betapa duka hati Dalem Ketut mendengar laporan Kiyai Kebon Tubuh; dimintanya Kiayi mengulangi kunjungan ke Pulasari membujuk para putra agar mau pulang ke Suwecapura.
Walaupun sampai tiga kali utusan ini pulang balik, para putra tetap tidak mau datang ke Suwecapura. Ini menimbulkan kemarahan Dalem Ketut, sehingga keluarlah perintah beliau untuk menangkap para kemenakan beliau dibawa paksa pulang ke Suwecapura. Kiyai Kebon Tubuh lalu mengerahkan prajurit dalam jumlah besar dengan persenjataan lengkap. Tidak kurang dari 2000 prajurit dibawa serta, namun bukan dari pasukan Dulang Mangap.
Sementara itu pihak para putra yang dipimpin oleh Dewa Bagus Dharma telah mengetahui gerakan musuh yang menjalar bagaikan ular besar dari arah selatan. Kakek beliau, I Gusti Poh Tegeh bersama kerabatnya yaitu I Gusti Ngurah Kubakal mempersiapkan pertahanan rakyat di desa Pesaban, Tembuku, dan Timuhun. Perang besar yang tidak seimbang berkecamuk dengan dahsyat, membawa korban banyak di pihak pasukan I Gusti Poh Tegeh. Dapat dimaklumi karena pasukan ini bukan prajurit terlatih, hanya bermodalkan semangat dan kesetiaan yang tinggi kepada ratunya. Mayat-mayat yang jatuh ke sungai hanyut ke hilir akhirnya sampai ke perbatasan kota Gelgel.
Dalem Ketut mendengar berita banyaknya korban rakyat biasa dalam peperangan di pegunungan. Beliau lalu memerintahkan menghentikan peperangan dan menarik pasukan Kiyai Kebon Tubuh kembali ke Gelgel. Dalem Ketut menulis surat kepada I Gusti Poh Tegeh dibawa oleh utusan beliau, sekali lagi Kiyai Kebon Tubuh bersama seorang Bendesa. Surat itu diterima oleh I Gusti Poh Tegeh lalu dibaca di hadapan I Gusti Ngurah Kubakal, dan I Gusti Ngurah Puajang : “Wahai kamu sekalian para Pasek di pegunungan, serahkanlah para kemenakanku itu untuk aku asuh di Gelgel, semata-mata karena belas kasihanku dan kerinduan serta keinginanku untuk memelihara mereka sebagaimana layaknya para ratu keturunan Dalem; peperangan hanya akan merugikan kita sendiri karena banyak rakyat yang menjadi korban”
I Gusti Poh Tegeh berkata bahwa beliau masih akan membicarakan hal ini kepada para putra, dan sementara agar Kiyai Kebon Tubuh pulang lebih dahulu ke Gelgel; mungkin beberapa hari lagi beliau akan menyusul mengantarkan para putra ke Gelgel. Gusti Poh Tegeh ingin memenuhi perintah Dalem Ketut karena berpendapat bahwa maksud Dalem Ketut sungguh-sungguh baik, namun perlu beberapa hari untuk meyakinkan pendapatnya kepada para putra, terutama Dewa Bagus Dharma sebagai putra tertua.
Sepulangnya Kiyai Kebon Tubuh, Gusti Poh Tegeh memanggil para putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan (d.h. Ide Bethara Dalem Tarukan) seraya menyampaikan isi surat Dalem Ketut. Para putra belum sanggup memberi persetujuan hari itu karena masih merasa khawatir akan masa depan mereka di Gelgel sementara mereka sudah betah dan berbahagia tinggal di pegunungan. Gusti Poh Tegeh mempersilahkan para putra untuk berpikir beberapa hari agar mendapat pertimbangan yang matang sebelum mengambil keputusan.
Namun tiba-tiba tanpa diduga sama sekali datanglah gelombang serangan yang dahsyat dari para Manca Badung dipimpin oleh I Gusti Gede Kaler disertai Arya Kenceng, Ngurah Mambal, Ngurah Menguwi, dan I Gusti Ngurah Telabah. Gerakan ini sangat mengejutkan dan mengherankan para tokoh pegunungan seperti Gusti Poh Tegeh serta para kerabatnya. Beliau cepat berpikir bahwa gerakan ini bukan perintah Dalem Ketut, melainkan gerakan para arya yang merasa khawatir bila para putra Dalem Tampuwagan kembali ke Gelgel pasti akan diberi kedudukan sebagai Manca yang akan berakibat kedudukan mereka tergeser.
Jadi tujuan serangan kali ini adalah membunuh para putra. Naluri jiwa kesatria Gusti Poh Tegeh bangkit lalu bersama para kerabatnya memimpin perang mempertahankan dan melindungi para putra. Perang berkecamuk seru berhari-hari, namun segera terlihat kekuatan yang tidak seimbang. Pasukan bertahan yang dipimpin I Gusti Agung Bekung bersama Dewa Bagus Dharma dipukul mundur meninggalkan mayat prajurit sekitar 5000 orang.
Pada suatu pagi hari di saat hujan rintik-rintik dan matahari baru bersinar terang-terang tanah gugurlah Dewa Bagus Dharma, putra tercinta Ide Bethara Dalem Tampuwagan. Para Kakek, adik-adik beliau serta seluruh rakyat pegunungan berduka cita sedalam-dalamnya. Beliau sebenarnya mempunyai ilmu kekebalan tubuh pembawaan sejak lahir, namun di saat fajar kekebalan itu sirna sementara; rupanya kelemahan ini diketahui musuh. Beliau direbut berpuluh-puluh prajurit I Gusti Gede Kaler di saat fajar. Tempat gugurnya diberi nama Siang Kangin. Di situ pula layon beliau diupacarakan dan distanakan pada pelinggih yang dibangun, selanjutnya dinamakan Pura Siang Kangin.
Sejak gugurnya Ide Bethara Siang Kangin, rakyat pegunungan menderita kekalahan terus-menerus dalam peperangan. Untuk mencegah korban yang lebih banyak maka para pemimpin rakyat pegunungan berunding lalu mengambil keputusan untuk menyelamatkan para putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan.
Cara menyelamatkan para putra disepakati sebagai berikut : Gusti Gede Sekar dan Gusti Gede Pulasari diiringi ibunda beliau Gusti Luh Puwaji beserta empat orang saudaranya ke Puri Gelgel meminta perlindungan Dalem Ketut. Gusti Gede Bandem pergi ke Desa Keling (Karangasem). Gusti Gede Belayu berangkat kearah Tabanan, menetap di suatu tempat yang kini bernama Desa Belayu. Gusti Gede Balangan menetap di Desa Pantunan atas jaminan keselamatan dari Gusti Agung Pasek Gelgel. Gusti Gede Dangin atas permintaan beliau, tidak mau turut ke Gelgel, lalu berangkat menuju daerah Den Bukit (Buleleng) diiringi rakyat 12 orang, menuju Desa Sudaji. Demikianlah keenam bersaudara itu berpisah menuju tempatnya masing-masing. Sedih dan pilu hati mereka karena harus berpisah dan meninggalkan kampung halaman, namun pasrah menyerahkan nasibnya kepada Ide Sanghyang Widhi Wasa.
Setibanya Gusti Gede Sekar dan Gusti Gede Pulasari di Puri Gelgel, langsung menghadap Dalem Ketut Sri Semara Kepakisan. Betapa gembiranya Dalem Ketut menerima kemenakan-kemenakan beliau, namun terasa agak kecewa karena tidak semua kemenakannya mau hadir. Tetapi akhirnya beliau maklum setelah mendapat penjelasan dari Gusti Agung Pasek Gelgel bahwa keputusan untuk menuju tempat masing-masing sudah dipertimbangkan dengan baik. Dalem Ketut kemudian memberikan penugrahan kepada para kemenakannya sebagai berikut :
“Kemenakanku semua, janganlah kalian menyamai (memadai) kedudukanku, karena kalian keturunan Kesatria yang telah diturunkan wangsanya dan kini menjadi Wesia Dalem. Sebab-sebab diturunkan wangsamu karena peristiwa di Puri Tarukan yang melibatkan kakakku Ide Bethara Dalem Tampuwagan. Di kemudian hari bila kalian dan keturunanmu melaksanakan upacara pelebon dibolehkan menggunakan tata-cara seorang Raja karena kalian masih menjadi satu keturunan denganku. Cuntaka hanya tiga malam sebagaimana halnya wangsa Brahmana, Kesatria (para Ratu). Setelah cuntaka habis segeralah mebersih di mata air selanjutnya ngayab banten pebersihan; setelah itu barulah kembali kesucianmu. Jika kalian berani menyamai kedudukanku, akan kukutuk kalian tiga kali. Hal lain yang harus kalian ingat, janganlah melupakan Pura-pura kahyangan jagat di seluruh Bali, serta janganlah mensia-siakan para Pendeta/Sulinggih dan orang-orang suci agar jagat Bali selalu trepti. Janganlah kalian melakukan hubungan suami istri di luar pernikahan karena perbuatan itu akan membawa kehancuran sehingga orang-orang Bali tidak lagi bersatu. Peringatan-peringatanku ini berlaku seterusnya sampai ke anak cucu keturunanmu selanjutnya. Bila ada yang melanggar mudah-mudahan menemui bencana dalam hidupnya”
Setelah berlalu beberapa masa, datanglah seorang keturunan Ide Bethara Hyang Genijaya dari Majapahit bernama Sangkul Putih bersama istri dan para putranya. Beliau mendarat di Padang lalu langsung ke Puri Gelgel menghadap Dalem Ketut. Bertepatan saat itu Ide Dalem Ketut sedang memberikan penugrahan kepada para putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan yang kali ini hadir secara lengkap yaitu : Gusti Gede Sekar, Gusti Gede Pulasari, Gusti Gede Bandem, Gusti Gede Belayu, Gusti Gede Balangan, dan Gusti Gede Dangin, sehingga Sangkul Putih turut mendengarkan wejangan beliau sebagai berikut: “Wahai para kemenakanku semua, kini lanjutkan penugrahan yang telah kuberikan beberapa waktu yang lalu sebagai berikut : Jika kalian memahami tentang kemoksan seharusnya kalian menjadi seorang Sulinggih karena kalian adalah seketurunan denganku yaitu keturunan Brahmana.
Oleh karena itu pula kalian harus selalu berbakti di Kahyangan Brahmana di Tolangkir (Besakih) jangan melewatkan upacara-upacara di sana sekalipun. Jika kalian melupakan, kukutuk kalian menjadi orang Sudra dan kalian tidak lagi menjadi seketurunan denganku. Demikian juga kalian harus berbakti di Kahyangan Ide Bethara Hyang Genijaya yang ada di Lempuyang dan di Tolangkir sesuai sabda Ide Bethara Brahma. Jika kalian melalaikan peringatanku ini mudah-mudahan hidupmu susah senantiasa kekurangan, kesasar tidak menemukan arah hidup. Kalian adalah keturunan Brahmana, maka bila meninggal dunia, layon harus dibungkus oleh daun muda pisang gedang Kaikik sebab ketika leluhur kita lahir beliau dialasi oleh daun muda pisang gedang Kaikik. Jika tidak demikian kalian dan keturunan kalian bukan warih Dalem.
Selanjutnya beliau Dalem Ketut bersabda : “Apa yang aku anugrahkan kepadamu tadi dan selanjutnya ini adalah wahyu dari Ide Bethara Hyang Genijaya yang berstana di Lempuyang. Kalian para kemenakanku, janganlah lupa memuja dan memohon anugrah kepada Ide Bethara di Penataran Agung, Tolangkir, juga kepada I Ratu Pande, I Ratu Gede Penyarikan, serta nuntun para arwah leluhurmu untuk distanakan di tempat keturunanmu. Taatlah melaksanakan kedharmaan, jangan menentang peraturan-peraturan. Diantara keturunan-keturunanmu janganlah satu sama lain tiada mengakui bersaudara, paling tidak mengaku memisan atau memindon. Di mana pun kamu berada tetaplah mengaku bersaudara; jika lupa atau tidak mengakui saudara, mudah-mudahan kamu kehilangan “soda” yaitu selalu kekurangan makanan dan minuman.
Beberapa waktu kemudian, Ide Dalem Ketut kembali mengumpulkan para kemenakan beliau (putra-putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan) lalu meneruskan penugrahan yang diterima dari para putra-putri Sanghyang Pasupati yaitu Ide Bethara Mahadewa yang berstana di Tolangkir dan adik beliau Ide Bethari Dewi Danu yang berstana di Danau Batur sebagai berikut : Apabila diantara kalian atau keturunanmu di kemudian hari ada yang mampu Madwijati, diperkenankan pada upacara pelebon menggunakan padma trawang, pisang gedang kaikik, gamet (kapas), kesumba, serta bertingkat 5 (nista), 7 dan 9 (madia), dan 11 (utama).
Itu adalah demi kesejahteraanmu. Jika mayat kalian dibakar, cuntake hanya 3 (tiga) malam; jika ditanam 7 (tujuh) malam; Jika mayat kalian dibakar, harus dilakukan upacara ngeleb awu ke segara/sungai disertai upacara ngirim; jika dilalaikan, mudah-mudahan kamu menjadi manusia yang derajatnya paling rendah karena tidak membela kewangsaan serta tidak mengenal kawitan.
Selanjutnya Dalem Ketut bersabda : “Kalian kemenakanku, walaupun kalian telah disurud wangsakan, namun kalian masih aku anugerahi hak-hak sebagai berikut : seketurunan kalian tidak kena kewajiban-kewajiban/pungutan (pajak), tidak kena pejah pajungan (hukuman mati), tidak kena cecangkriman (pembuangan), tidak kena ambungan (hukuman cambuk), tidak kena sasarandana (pungutan adat), tidak kena pepanjingan (larangan masuk ke suatu wilayah), tidak kena pecatuan (yuran di Pura), tidak kena perintah. Para penguasa di daerah yaitu Manca dan Punggawa diberitahu semua penugrahan Ide Bethara Dalem Ketut tersebut untuk ditaati dan diindahkan, ditambah lagi penekanan agar mereka senantiasa menghormati para kemenakan beliau seketurunan. Apabila ada yang berani menentang atau tidak melaksanakan, mudah-mudahan hilang kesaktiannya dan luntur kewibawaannya.
Beberapa waktu kemudian Ide Dalem Ketut memberikan tambahan wejangan setelah mendapat wahyu dari Ide Bethara Brahma : “Jika kalian dan keturunanmu meninggal, kalian harus memohon melalui Sangkulputih tirta Yeh-Tunggang dari Gunung Agung sebagai tirta pengentas. Oleh karena itu kawitan serta semua arwah leluhurmu berstana di Gunung Agung (Tolangkir) sehingga kamu wajib berbakti kepada kawitan dan arwah leluhurmu di Pedarmaan Besakih.
Bila ada keturunanmu yang sudah mebersih wenang naik-turun di pelinggih-pelinggih di Tolangkir dalam upacara yadnya. Bila ada keturunanmu yang mampu Madwijati/Madiksa, wenang mengajarkan ilmu, sastra dan kedharmaan kepada saudara-saudaranya sehingga menjadi orang-orang yang terhormat serta diikuti petunjuk-petunjuknya oleh orang lain. Jika semuanya kalian taati dan laksanakan dengan kokoh dan tekun, mudah-mudahan kalian dapat mencapai moksah.
Selain memberikan penugrahan di bidang agama dan kedharmaan, Ide Dalem Ketut juga memberikan “Mantri sesana” yaitu tata susila sebagai pejabat yang bertugas dan berkedudukan sebagai berikut : I Gusti Gede Sekar sebagai Manca di Nongan diberikan tanah kebun 15 sikut disertai Ibunda beliau Ni Gusti Luh Puaji. I Gusti Gede Pulasari kembali ke Pulasari sebagai Dukuh menguasai pedukuhan Pulasari (Bunga), Tampuwagan, Peninjoan, Karang-suwung, dan Manikaji. I Gusti Gede Bandem di beri kedudukan sebagai Manca di Nagasari, meliputi : Tihingan, Kayuputih, Uma-anyar, dan Bangkang. I Gusti Gede Belayu diangkat sebagai Manca di Ogang, meliputi : Semseman, Mijil, Sanggem, Sangkan Gunung, Pakel dan Sangkungan. I Gusti Gede Balangan tetap tinggal di istana Gelgel. I Gusti Gede Dangin kembali ke Sudaji.
Kecuali I Gusti Gede Dangin, semua putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan diberikan pamancanggah yang memuat penugrahan tersebut di atas ditambah dengan gambar rerajahan rurub kajang dan rerajahan daun pisang Kaikik selengkapnya. Pamancanggah itu disahkan dan diumumkan oleh Ide Dalem Ketut pada Hari Kamis, Umanis, wuku Ukir, panglong ping 13 (telulas) sasih Kapat, Isaka 1339 (1417 M). Pamancanggah itu diupacarai/dipasupati sebagaimana mestinya. Sesampainya di tempat kedudukan masing-masing, para putra Ide Bethara Dalem Tampuwagan menempatkannya di pelinggih pemerajan dan dipuja oleh seketurunan beliau-beliau. Bila ada yang mengabaikan kewajiban memuja dan mentaati pamancanggah itu mudah-mudahan dikutuk oleh Ide Bethara Kawitan.
2.2 Silsilah Ide Bethara Dalem Tarukan
Sanghyang Pasupati berputra :
1. Bhatara Hyang Gnijaya
2. Bhatara Hyang Putranjaya
3. Bhatari Dewi Danuh
4. Bhatara Hyang Tugu
5. Bhatara Hyang Manikgalang
6. Bhatara Hyang Manikgumawang
7. Bhatara Hyang Tumuwuh
Bhatara Hyang Gnijaya berputra Mpu Withadharma (Sri Mahadewa)
Mpu Withadharma berputra :
1. Mpu Bhajrasattwa (Mpu Wiradharma)
2. Mpu Dwijendra (Mpu Rajakretha)
Mpu Bhajrasattwa berputra : Mpu Tanuhun (Mpu Lampita)
Mpu Tanuhun berputra :

1. Mpu Gnijaya
2. Mpu Sumeru (Mpu Mahameru)
3. Mpu Ghana
4. Mpu Kuturan (Mpu Rajakretha)
5. Mpu Bharadah (Mpu Pradah)



Mpu Bharadah berputra :

1. Mpu Siwagandu
2. Ni Dyah Widawati
3. Mpu Bahula
Mpu Bahula berputra :
1. Mpu Tantular (Mpu Wiranatha)
2. Ni Dewi Dwararika
3. Ni Dewi Adnyani
4. Ni Dewi Amerthajiwa
5. Ni Dewi Amerthamanggali
Mpu Tantular berputra :
1. Danghyang Kepakisan
2. Danghyang Smaranatha
3. Danghyang Sidhimantra
4. Danghyang Panawasikan
Danghyang Kepakisan berputra : Sri Soma Kepakisan
Sri Soma Kepakisan berputra :
1. Sri Juru (Dalem Blambangan)
2. Sri Bhima Sakti (Dalem Pasuruan)
3. Sri Kepakisan (Dalem Sumbawa)
4. Sri Kresna Kepakisan (Dalem Bali)


Sri Kresna Kepakisan berputra :

1. Dalem Samprangan
2 Dalem Tarukan
3. Dewa Ayu Wana
4. Dalem Sri Smara Kepakisan
5. Dewa Tegal Besung
Mpu Tanuhun (Mpu Lampita) berputra lima, yaitu Mpu Gnijaya, Mpu Sumeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan, dan Mpu Bharadah. Kelimanya disebut Panca Tirta. Mpu Gnijaya menurunkan Sapta Rsi yaitu : Mpu Ketek, Mpu Kananda, Mpu Wiradnyana, Mpu Withadharma, Mpu Ragarunting, Mpu Preteka, dan Mpu Dangka.
Beliau bertujuh selanjutnya, lama-kelamaan menurunkan Maha Gotra Pasek Sanak Sapta Rsi. Saudara bungsu Mpu Gnijaya yaitu Mpu Bharadah lama-kelamaan menurunkan Para Gotra Sentana Dalem Tarukan atau dikenal sebagai warga Pulasari.
Adanya tali kekeluargaan seperti itulah yang disadari oleh warga Pasek di pegunungan di saat beliau-beliau membantu dan menyelamatkan Ide Bethara Dalem Tarukan di pengungsian sebagaimana telah diuraikan di muka. Patutlah warga Pulasari berhutang budi kepada warga Pasek. Kesadaran ini pula yang mungkin mendasari ide pembangunan Pura Pusat Pulasari berdampingan dengan Pura Pasek.
Di Gelgel, semasa pemerintahan Ide Bethara Dalem Semara Kepakisan dibangun pula Pura Dasar Bhuwana yang disungsung oleh warga keturunan Ide Bethara Dalem Sri Kresna Kepakisan, Ide Bethara Mpu Gnijaya (Pasek Sanak Sapta Rsi), dan keturunan Ide Bethara Mpu Saguna (Maha Smaya Warga Pande). Lama-kelamaan, disungsung pula oleh seluruh rakyat Bali, mengingat di Pura Dasar Bhuwana distanakan Raja (Dalem) pertama di Bali.
“Kepakisan” asal katanya “Pakis” berarti Paku. Gelar Kepakisan diberikan kepada Brahmana yang ditugasi sebagai Raja (Dalem) atau Kesatria. Gelar Kepakisan yang diberikan kepada Kesatria adalah : Sira-Arya Kepakisan. Beliau adalah keturunan Sri Jayasabha, berasal dari keturunan Maha Raja Airlangga, Raja Kahuripan (Jawa). Gelar “Paku” di Jawa pertama kali digunakan oleh Susuhunan Kartasura : Paku Buwono I pada tahun 1706 M.
Di Bali gelar “Pasek” yang berasal dari perkataan “Pacek”(= paku) pertama kali digunakan oleh Arya Kepasekan, yaitu putra Mpu Ketek yang termasuk kelompok Sapta Rsi. Ada juga warga Pasek yang di luar kelompok Sapta Rsi, yaitu keturunan dari Mpu Sumeru yang berputra Mpu Kamareka, selanjutnya menurunkan warga Pasek Kayu Selem, Pasek Celagi, Pasek Tarunyan, dan Pasek Kayuan. Beliau-beliau juga sangat besar jasanya menyelamatkan Ide Bethara Dalem Tarukan.
Kesimpulannya bahwa gelar : Kepakisan, Paku, Pasek bermakna dan berderajat sama yaitu sebagai fungsi kekuasaan atau pemimpin di suatu wilayah tertentu atau pemimpin suatu penugasan/jabatan tertentu yang didelegasikan oleh Dalem ( Kaisar = Maha Raja, atau Raja)



2.3 Nilai-Nilai Luhur
Beberapa nilai luhur yang boleh menjadi pedoman kita bersama antara lain adalah:
a. Berbudi lurus, bertanggung jawab.
b. Berperasaan halus, cinta kasih dan suka mengalah.
c. Merakyat, suka bekerja keras.
d. Jiwa kesatria.
e. Rohaniawan, berbudi luhur.
















II. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari uraian mengenai bhisama dan nilai luhur tersebut diatas, dapat kiranya disampaikan pokok-pokok pikiran, bahwa sangat penting artinya dapat memahami apa yang dimaksud dengan bhisamaa, nilai luhur, atau panugrahan seprti apa yang tertulis didalam babad-babad, atau keterangan tertulis lainnya.
Demikian Ida Dalem Tarukan, tidak hanya mengeluarkan bhisama berupa pangandika (kata-kata), tetapi juga Nampak dari prilaku yang jujur, bertanggung jawab, rendah hati, dan wujud fisik yang diwariskan sperti bade, meru tumpeng 7, yang patut menjadi acuan sentana dalam bertingkah laku. Juga tentang istilah panugrahan, kalau wacana itu akan mengakibatkan seseorang jatuh prestise, atau statusnya.

3.2 Saran

1. Pemerintah seharusnya melirik babad yang makin lama makin punah.
2. Sebagai sentana harusnya kita mengetahui asal-usul kita agar nantinya tidak terjadi kesalahpahaman.










DAFTAR PUSTAKA


http://dianputra.wordpress.com/2008/04/27/silsilah-sentana-dalem-tarukan

http://www.nofayadibagus.co.cc/2010/06/sejarah-silsilah-sentana-dalem-tarukan.html

http://www.babadbali.com/pura/plan/dadia-paragotra-pulasari.htm

http://pasektangkas.blogspot.com/2009/07/pura-padharman-pusat-ida-bhatara-dalem.html